Warga Palestina Protes Rencana Israel untuk Hancurkan 100 Rumah di Yerusalem Timur

Proyek kotamadya Israel untuk membangun taman wisata “alkitabiah berisiko menghancurkan ratusan rumah, yang dihuni oleh 1.550 warga Palestina.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sat,20 Mar 2021,04:08 AM

Yerusalem, SPNA - Ratusan warga Palestina di wilayah Yerusalem Timur yang diduduki, Jumat (19/03/2021), berdemonstrasi memprotes kotamadya Yerusalem yang berencana menghancurkan 100 rumah demi mendirikan taman wisata “alkitabiah”

Lingkungan al-Busatan adalah kawasan yang berada di sisi selatan tembok Kota Tua Yerusalem, dekat lingkungan Silwan, dan Wadi al-Hilweh.

Sejak 2007, daerah ini telah menjadi situs penggalian arkeologi Israel, yang berharap menemuka dua kota Daud yang alkitabiah. Sejak itu pula, penggalian di bawah rumah warga Palestina berlangsung.

Ratusan warga berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat kemudian melanjutkan protes atas rencana tersebut.

Fakhri Abu Diab, seorang warga dan aktivis masyarakat Silwan, kepada Middle East Eye mengungkapkan bahwa Israel berencana untuk mengusir paksa warga Palestina, yang telah urun-temurun telah tinggal di Kota Tua Yerusalem selama ratusan tahun, dan secara berangsung membuka membukakan jalan bagi 25.000 pemukim untuk menetap wilayah tersebut.

“Rencananya adalah Yahudisasi wilayah itu, dan ini harus dilakukan dengan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina dan mengusir pendudukanya. Sangat jelas niat Israel untuk membersihkan etnis Palestina dari al-Bustan. Ini karena jaraknya yang dekat dengan tembok Kota Tua dan Masjid Al-Aqsa,” tutur Abu Diab.

Dia menambahkan bahwa penduduk Palestina di al-Bustan telah mencapai kesepakatan dengan kotamadya Yerusalem melalui pengacara dan kelompok hak asasi manusia untuk membekukan rencana tersebut, namun pihak kotamadya menolaknya.

Taman Alkitabiah

Pemerintah kotamadya Isarel memutuskan untuk melanjutkan rencana membangun Taman Gan Hamelechdi di tanah al-Bustan dan menghubungkannya menjadi taman kota Daud, setelah menghancurkan 100 rumah yang dihuni oleh 1.550 warga Palestina, di mana 63 persennya masih berusia di bawah 18 tahun.

Bersamaan dengan itu, mengumumkan pada bulan November bahwa mereka akan memulai pekerjaan evakuasi di kawasan Silwan untuk persiapan pembangunan kereta gantung, sebuah proyek kotroversial yang secara dramatis akan mengubah Kota Tua Yerusalem yang bersejarah dan meningkatkan persentasi orang Israel di lingkungan yang mayoritas dihuni oleh warga Palestina itu.

Israel menjadikan dalih “tidak memiliki izin mendirikan bangunan” sebagai justifikasi atas penghancuran rumah-rumah warga palestina. Namun, Israel terus melakukan upaya yang membuat memiliki “izin mendirikan bangunan” menjadi hal mustahil bagi warga Palestina. Di saat yang sama mereka mengumumkan dan secara teratur memperluas permukiman di Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang didudiki.

Qutaiba Odeh, warga al-Bustan yang rumahnya terancam perintah pembongkaran, kepada Ghan TV menuturkan bahwa pemukim Israel telah aktif dan membangun 73 unit permukiman di kawasan Silwan.

“Selama 10 tahun, otoritas pendudukan Israel berencana menghancurkan rumah-rumah di al-Bustan untuk membangun taman alkitabiah,” ungkap Odeh.

Pada bulan November, kepompok hak asasi manusia Israel B’Tselem menerbitkan laporan yang mengungkapkan bahwa penghancuran bangunan Palestina oleh Israel mencapai angka tertinggi dalam empat tahun, menyebabkan ratusan warga Palestina di Yerusalem Timur dan Tepi Barat kehilangan tempat tinggal.

Angka tertinggi sejak 2016, ketika angka penghancuran rumah memecahkan rekor, yang menyebabkan 1.496 warga Palestina kehilangan tempat tinggal.

Penghancuran rumah yang dilakukan Israel, dengan dalih “tidak memiliki izin”, secara luas dipandang illegal berdasarkan hukum internasional. OCHA, Kantor Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah meminta Israel untuk menghentikan praktik tetsebut.

(T.RA/S: MEE)

leave a reply
Posting terakhir