Bentrokan di Nablus, Seorang Pria Gugur dan Beberapa Lainnya Terluka

Di desa al-Lubban ash-Sharqiya beberapa orang terluka dalam protes yang digelar untuk menolak kunjungan provikatif pemukim ilegal Israel. Sementara itu, seorang pria berusia 45 tahun gugur dalam bentrokan di desa Beit Dajan ketika warga memprotes perluasan permukiman di daerah itu.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sat,20 Mar 2021,01:24 PM

Nablus, SPNA - Beberpa warga Palestina pada Jumat (19/03/2021) terluka akibat tertembak oleh pasukan pendudukan Israel. Insiden ini terjadi ketika warga menolak kunjungan provokatif yang dilakukan oleh pemikim kolonial Israel di situs arkeologi desa al-Lubban ash-Sharqiya, sebelah selatan kota Nablus, Tepi Barat yang diduduki, seperti yang dilaporkan kontributor media Palestina, WAFA..

Sejumlah pemukim Israel disertai pasukan pendudukan memaksa masuk ke Khan al-Laban -sebuah situs era Ottoman- dan mencegah akses warga Palestina ke situs tersebut.

Pasukan Israel menembakkan gas air mata ke penduduk desa yang berusaha menolak kunjungan provokatif tersebut, dan menyerang serta mendorong warga yang menyebabkan beberapa orang terluka.

Di hari yang sama, pasukan Israel menembak dan membunuh seorang pria Palestina di desa Beit Dajan, Nablus, Tepi Barat yang diduduki, dalam aksi dalam demonstari yang memprotes perluasan permukiman di wilayah tersebut. Kementerian Kesehatan PA kemudian mengidentifikasi pria yang terbunuh itu adalah Atef Yousef Hanaysha yang berusia 45 tahun.

Para pemukim datang dari permukiman kolonial terdekat di Ma'ale Levona, yang dibangun pada 1983 di tanah milik warga Palestina.

Kekerasan pemukim terhadap warag dan bangunan Palestina adalah hal biasa di Tepi Barat dan jarang dituntut oleh otoritas pendudukan Israel.

Lebih dari 700.000 pemukim Israel tinggal di permukiman kolonial khusus Yahudi di Tepi Barat yang melanggar hukum internasional, terutama Konvensi Jenewa Keempat yang secara tegas melarang relokasi penduduk sipil negara pendudukan ke tanah yang diduduki.

(T.RA/S: QNN, MEE)

leave a reply