Hamas Peringati 17 Tahun Syahidnya Syekh Ahmad Yassin

Sheikh Ahmet Yassin adalah seorang pria lumpuh di kursi roda. Tetapi kaum Zionis penjajah tidak dapat mentolerir keberadaannya yang terus-menerus membangkitkan perlawanan dengan kekuatan dan tekad. Pada 22 Maret 2004, Syekh Yassin syahid oleh serangan udara seusai melaksanakan shalat subuh di masjid.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,22 Mar 2021,03:36 PM

Gaza, SPNA - Gerakan Perlawanan Islam Hamas, Senin (22/03/2021), menyatakan kesetiaan mereka pada prinsip-prinsip yang diwariskan oleh pendirinya, sang syahid Syekh Ahmad Yassin. Yang utama dari prinsip tersebut adalah persatuan dan pembebasan Yerusalem dari pendudukan, agar kembali ke pangkuan Arab dan Islam serta menjadi ibu kota Negara Palestina yang bebas dan merdeka.

Memperingati 17 tahun syahidnya Syekh Yassin, gerakan ini menyatakan, “Ketika pendudukan membunuh Syekh Yassin, dia pikir ini telah membunuh ide, keyakinan, organisasi, dan perlawanan. Namun dia tidak mengerti dan tidak menyangka bahwa Syekh telah meninggal berulang-ulang, beberapa jam sebelum kematiannya, Syekh mengucapkan kalimat yang mahsyur, ‘Saya berharap Tuhan akan senang dengan saya.’”

Gerakan ini menambahkan, “Syekh Yassin syahid setelah dia mewariskan ribuan pemimpin yang membawa idenya. Dan pembunuhan tidak akan menghilangkan mereka. Mereka mengikutinya dengan mengumpulkan faktor material, spiritual dan politik, hingga gerakannya, Hamas, menjadi organisasi utama Palestina.”

Hamas menekankan prinsip tidak mengakui Israel dengan mengatakan, “Tidak ada pengakuan atas pendudukan, tidak ada rekonsiliasi dengannya, tidak pula pelepasan setitik tanah dari Palestina dan kesuciannya.”

Gerakan ini menambahkan, “Kembalinya para pengungsi adalah hak suci, dan perlawanan akan terus berlanjut hingga mereka semua kembali ke rumah dan tanah air mereka.”

Selain itu, Hamas menegaskan kesetiannya untuk membebaskan para tahanan, yang merupakan salah satu prinsip terpenting dari Syekh Yassin, yang berulang kali menegaskan bahwa “mereka akan kembali ke rumah dan terlepas dari penjajahan. Mereka adalah anakanak kita, dan kita tidak akan terima jika mereka tetap berada di balik jeruji besi.”

Syekh Yassin lahir pada tahun 1937 di desa Cevra, dekat kota Askalan Palestina, dan kehilangan ayahnya saat berusia 3 tahun.

Pada 1948, Zionis menyerbu sebagian pesar wilayah Palestina, Syekh Yassin pindah ke Gaza bersama keluarganya. Pada Tahun 1952 belaiu menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Imam Syafi’i di Gaza, dan menyelesaikan Sekolah Menengah Atas pada tahun 1958. Beliau menyaksikan banyak momen penting yang berdampak signifikan dalam hidupnya.

Pada musim panas 1952, dalam sebuah kegiatan oleh raga Syekh Yasin jatuh tersungkur yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh.

Menyusul pendudukan seluruh wilayah Palestina oleh Zionis pada 1967, Syekh Ahmad Yassin memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran publik. Setelah mendirikan Islamic Center di Gaza, beliau mulai terkenal luas di Palestina. Kondisi ini membuat otoritas pendudukan tidak nyaman dan berulang kali memanggil beliau ke kantor polisi.

Sheikh Ahmet Yassin adalah seorang pria lumpuh di kursi roda. Tetapi kaum Zionis penjajah tidak dapat mentolerir keberadaannya yang terus-menerus membangkitkan perlawanan dengan kekuatan dan tekad. Pada 22 Maret 2004, Syekh Yassin syahid oleh serangan udara seusai melaksanakan shalat subuh di masjid.

(T.RA/S: Sources)

leave a reply