Mantan PM Israel: Israel Harus Menarik Diri dari Bumi Palestina yang Dirampas Sejak 1967

Untuk memecahkan masalah Yerusalem, Olmert mengusulkan agar bagian suci kota tidak tunduk pada kedaulatan negara mana pun, melainkan harus dikelola oleh banyak pihak seperti Israel, Palestina, Yordania, Arab Saudi, dan Amerika, dan harus di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,29 Mar 2021,11:33 AM

Tel Aviv, SPNA - Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, pada Sabtu (28/3/2021), menuntut agar inisiatif Arab yang diajukan Arab Saudi pada tahun 2002 menjadi dasar proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Inisiatif ini menekankan bahwa Israel harus menarik diri dari 95 persen tanah yang didudukinya pada tahun 1967 sebagai dasar perbatasan antara Israel dan negara Palestina.

Olmert mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, siap membuat konsesi apa pun demi proses perdamaian. Menurutnya, sangat penting berbagai pihak datang dengan hati terbuka untuk melakukan negosiasi, dan ia percaya bahwa kepentingan Israel membutuhkan ini.

Ia berharap para pemimpin Arab akan memainkan peran yang lebih besar dalam memajukan proses perdamaian, terutama Pangeran Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Saudi. Olmert menggambarkannya sebagai orang yang sangat berenergi dan dinamis serta dapat memainkan peran penting dalam membangun perdamaian di Timur Tengah.

Untuk memecahkan masalah Yerusalem, Olmert mengusulkan agar bagian suci kota tidak tunduk pada kedaulatan negara mana pun, melainkan harus dikelola oleh banyak pihak seperti Israel, Palestina, Yordania, Arab Saudi, dan Amerika, dan harus di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mengenai pemilihan umum Israel, Olmert mengatakan bahwa ia memberikan suaranya kepada Partai Buruh, karena ia optimis tentang kepemimpinan di bawah Merav Michaeli, karena ia tidak mempercayai Benjamin Netanyahu sebagai perdana Menteri.

Nabil al-Arabi, mantan Sekretaris Jenderal Liga Arab, setuju dengan pendapat Olmert, di mana menekankan bahwa Netanyahu mengandalkan sikpa pribadi dan ambisi, tetapi bukan orang yang berprinsip. Menurutnya, sangat aneh jika Netanyahu ingin melanjutkan kekuasaan terutama kasus korupsi yang menghantuinya. Nabil al-Arabi menyatakan penyesalannya terhadap suara Arab redup dalam pemilihan Israel. Ia menekankan bahwa orang Arab harus memilih secara besar-besaran agar hasilnya efektif untuk menggagalkan Netanyahu terpilih kembali.

“Saya memiliki harapan besar bahwa Palestina akan mengatasi perpecahan saat ini dan mencapai persatuan mereka segera, untuk menjadi kubu yang menyatu dalam negosiasi yang akan datang sehingga program perdamaian memiliki dorongan nyata,” sebut Nabil al-Arabi.

(T.NA/S: Alarabiya)

leave a reply