2.000 Pejabat Israel Kepada Biden: Kesepaatan Nuklir Iran Membahayakan Israel dan Arab

[Dua ribu pejabat dan mantan pejabat Israel kirim surat terbuka kepada Presiden Amerika memintanya mempertimbangkan rencana kembalinya Amerika dalam kesepakatan nuklir Iran. Proyek nuklir Iran disebutkan akan sangat berbahaya untuk keamanan Israel dan sekutunya dari negara-negara Arab.]

BY Mohamed AlhirtaniEdited Tue,20 Apr 2021,01:34 PM

Tel Aviv, SPNA - Sejumlah penjabat Israel mengutarakan pendapatnya terkait kembalinya Amerika Serikat (AS) dalam kesepakatan Nuklir Iran.

Sebanyak 2.000 pejabat tinggi Israel, Selasa (20/04/2021), melalui sebuah surat terbuka kepada Presiden Amerika, Joe Biden, menulisan bahwa kesepakatan tersebut dapat mengancam Israel dan sekutunya dari negara-negara Arab.

Dua ribu pejabat tersebut berasal dari ragam latar belakang. Seperti mantan intelijen, militer dan dari kalangan hukum.

Surat yang diprakarsai oleh Serikat Pertahanan dan Keamanan Israel, seperti dikutip dari The Washington Free Beacon, menunjukkan secara jelas bahwa Israel dan sekutu Arabnya bersatu menentang usaha Biden untuk kembali bergabung dalam Kesepakatan Nuklir Iran 2015.

Para pejabat Israel tersebut manganggap bahwa kesepakatan tersebut sangat memalukan dan dapat mengancam keamanan regional Timur Tengah.

"Kami prihatin bahwa pemerintahan Biden dan beberapa negara Eropa mempromosikan kembalinya kesepakatan nuklir Iran dengan mengabaikan kekhawatiran negara-negara yang paling dekat dengan Iran, yang paling rentan terhadap Iran, dan yang paling tahu tentang  Iran." Dikutip dari Sputniknews.

(T.HN/S: Arabic.sputniknews)

 

leave a reply
Posting terakhir

Serangan AS di Suriah, Pejabat Israel: Iran Belum Mengerti Bahwa Biden Bukan Obama

Para pejabat menyatakan keyakinan mereka bahwa penggerebekan terhadap faksi-faksi yang didukung Iran ini mengirim pesan ke Teheran mengenai perlunya menahan diri dan menahan sekutunya di wilayah tersebut, mencatat bahwa otoritas Israel sebelumnya telah membahas dengan pemerintahan baru Amerika tentang kekhawatiran mereka terkait dengan peningkatan provokasi Iran di Timur Tengah.