Kawasan Arab Alami Krisis Air yang “Mematikan”

Hal yang memperparah masalah kelangkaan air di kawasan Arab adalah sungai-sungai utamanya berasal dari luar. Sungai Tigris dan Efrat berasal dari tanah Turki dan Sungai Nil berasal dari Danau Victoria, dan dengan demikian negara hilir tetap berada di bawah kekuasaan negara hulu dengan kemampuan untuk melaksanakan sejumlah proyek yang mengurangi atau bahkan mencegah pengiriman pasokan air, sementara beberapa negara di wilayah tersebut terpaksa mengimpor air dari lingkungan sekitarnya.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sat,03 Jul 2021,10:19 AM

Kairo, SPNA – Sebuah laporan yang dilansir dari RT Arabic pada Jumat (02/06/2021), menyebutkan bahwa kawasan Arab memiliki lebih dari setengah cadangan minyak dunia. Namun, sebagian besar negara Arab mengalami defisit cadangan air yang sangat besar. Kawasan Arab hanya memiliki kurang dari 7 persen dari cadangan dunia.

Hal yang kemudian memperparah masalah kelangkaan air di kawasan Arab adalah sungai-sungai utamanya berasal dari luar. Sungai Tigris dan Efrat berasal dari tanah Turki dan Sungai Nil berasal dari Danau Victoria, dan dengan demikian negara hilir tetap berada di bawah kekuasaan negara hulu dengan kemampuan untuk melaksanakan sejumlah proyek yang mengurangi atau bahkan mencegah pengiriman pasokan air, sementara beberapa negara di wilayah tersebut terpaksa mengimpor air dari lingkungan sekitarnya.

Penurunan jumlah volume air sungai Tigris dan Efrat tercatat terjadi setelah 2010 akibat pembangunan dua bendungan Turki dan Iran, yang mengurangi pasokan air dalam dua sungai yang mengalir ke Suriah dan Irak. Sementara itu, krisis Bendungan Renaissance antara Ethiopia dan negara-negara hilir, Mesir dan Sudan, semakin meningkat dan memburuk.

Selain itu, laporan menyebutkan bahwa volume air ke kawasan Arab terus menurun setiap tahun. Arab Economic Report pada tahun 2020 menunjukkan bahwa volume air tawar per kapita setiap tahunnya di kawasan Arab mencapai sebesar 800 meter kubik pada tahun 2019, dan pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 667 meter kubik. Ini berarti kawasan Arab pada 2025 hanya memiliki rata-rata 20 persen volume air jika dibandingkan pada tahun 1955, yang volume airnya mencapai 3.430 meter kubik.

Namun, terdapat laporan yang berbeda terkait Mauritania mengenai kecukupan air di negara tersebut. Salah satu laporan menyebutkan bahwa Mauritania merupakan satu-satunya negara Arab yang mandiri dengan kapasitas volume air mencapai 1.700 meter kubik. Sedangkan penelitian menempatkan Mauritania di peringkat negara paling rapuh dalam hal kecukupan air dunia.

Wilayah Arab dikenal sebagai “Segitiga Kering” karena mengandung kurang dari 7 persen cadangan air dunia, menerima kurang dari 1 persen air yang mengalir, curah hujannya tidak melebihi 2 persen dari rata-rata curah hujan global. Sedangkan 60 persen air yang mengalir di kawasan Arab bersumber dari negara tetangga.

(T.FJ/S: RT Arabic)

leave a reply