Insinyur Asal Palestina Memenangi Kompetisi Internasional Desain Rekonstruksi Pelabuhan Beirut

Empat lulusan universitas lokal Palestina berhasil memenangi sayembara membuat desain pelabuhan Beirut yang baru. Menteri Pendidikan Palestina mengatakan, Ini adalah bukti kualitas pendidikan kita.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Tue,06 Jul 2021,07:32 PM

Beirut, SPNA - Empat insinyur asal Palestina yang tergabung dalam satu tim, berhasil memenangi kompetisi internasional membuat desain rekonstruksi Pelabuhan Beirut. Mereka sukses mengalahkan tim Rusia yang berada di posisi ke dua, dan Italia di posisi ke tiga. Ikut terlibat dalam kompetisi tersebut tim dari Amerika Serikat, Polandia, Israel, Arab Saudi, Belanda, Bahrain, Portugal, China, dan Lebanon.

Dalam hal ini, Kementerian Pendidikan Palestina, Senin (05/07/2021) kemarin, menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan empat insinyur alumni Universitas Birzeit, Tepi Barat, tersebut.  Ke empat duta bangsa Palestina itu adalah Ala Abu Awad, Mays Bani Audah, Diala Andonia dan Majd Al-Maliki.

Menteri Pendidikan (Mendik) Palestina, Mahmoud Abu Mowais, menegaskan keberhasilan tersebut telah menunjukkan kualitas dan keterampilan tinggi yang dimiliki lulusan institusi pendidikan yang ada di Palestina. Di samping juga menjadi bukti bahwa warga Palestina masih bisa tetap berkontribusi untuk negara dan umat manusia meski mereka sendiri hidup di bawah tekanan penjajahan.

Abu Mowais menekankan pentingnya untuk mempromosikan prestasi seperti ini, serta terus mendukung usaha ilmiah kualitatif, untuk kepentingan Palestina, Arab dan dunia internasional.

Majid Al-Maliki, salah satu anggota tim yang berhasil membuat desain bertajuk "Beirut Produktif Pasca Ledakan/The Aftermath| A Productive Beirut ” itu, dalam sebuah pernyataan pers mengatakan bahwa proyek arsitektur yang mereka ciptakan menyajikan visi baru yang akan menjadikan Beirut sebagai ibu kota produktif dengan mengandalkan petensi lokal.

Ia menambahkan rekonstruksi pelabuhan tersebut, akan berlangsung dengan memanfaatkan dan mendaur ulang bahan-bahan sisa ledakan, seperti besi, kayu dan kaca, yang tersebar di seluruh kota.

Sedangkan Ala Abu Uwad, ia mengatakan bahwa merujuk pada desain pelabuhan yang mereka buat, di tempat tersebut nantinya akan terdapat banyak ruang publik dan pasar populer bagi penduduk lokal, dengan tetap melestarikan ciri khas warga Lebanon.

Dari cerita Ala juga diketahui bahwa timnya telah menghabiskan waktu selama empat bulan untuk akhirnya menghasilkan sebuah karya desain arsitektur.

Seperti diketahui, sebuah ledakan hebat terjadi di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus tahun lalu. Ledakan berasal dari 3000 ton amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan tersebut. Sebanyak 211 orang meninggal dan 6000 lainnya luka-luka, serta menyebabkan kerusakan yang luar biasa di hampir seluruh Ibu Kota Beirut. Insiden tersebut juga ikut menenggelamkan Lebanon dalam jurang krisis ekonomi dan politik yang paling buruk di negara itu.

(T.HN/S: RT Arabic)

leave a reply
Posting terakhir