Dipenjara Tanpa Dakwaan, 11 Tahanan Palestina Mogok Makan di Penjara Israel

Menurut lembaga yang berfokus dalam persoalan narapidana Palestina, hingga 30 Juni, Israel telah menahan sekitar 4.850 penduduk Palestina, termasuk 41 wanita, 225 anak-anak, dan 540 tahanan administratif.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Fri,23 Jul 2021,02:04 PM

Tel Aviv, SPNA - Komite Narapidana Palestina, pada Selasa (20/07/2021), mengatakan bahwa 11 tahanan Palestina di penjara Israel melakukan mogok makan sebagai bentuk protes penahanan administratif yang dilakukan pendudukan Israel.

Penahanan administratif merupakan pemenjaraan yang dilakukan atas perintah militer Israel tanpa dakwaan apa pun dan dapat diperpanjang selama enam bulan atau sewaktu-waktu.

Komite Narapidana yang merupakan lembaga non-pemerintah, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa tahanan Palestina yang sudah melakukan aksi mogok makan terlama adalah Salem Zaidat (40 tahun), dan Muhammad Al-Zughair (34 tahun), keduanya berasal dari selatan kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki. Mereka telah melakukan aksi mogok makan selama sembilan hari berturut-turut.

Sementara itu, dua tahanan lainnya, Muhammad Munir Omar (26 tahun), dan Mujahid Hamid, telah melakukan aksi mogok selama tujuh hari berturut-turut.

Komite Narapidana Palestina menambahkan bahwa sebanyak lima tahanan Palestina telah melanjutkan aksi mogok makan selama enam hari, yaitu Kayed (32 tahun), Mahmoud Al-Fasfous (30 tahun), Raafat Al-Darawish (28 tahun), Guevara Al-Namoura (28 tahun), dan Muayyad Al-Khatib (21 tahun).

Komite Narapidana menjelaskan bahwa Nidal Mufleh Khalaf (49 tahun), juga sudah mulai mogok makan sejak beberapa hari yang lalu. Sementara Al-Muntasir Billah Abu Azum (36 tahun) mengumumkan telah melakukan aksi mogok makan sejak dua hari lalu.

Menurut lembaga yang berfokus dalam persoalan narapidana Palestina tersebut, hingga 30 Juni 2021, Israel telah menahan sekitar 4.850 penduduk Palestina, termasuk 41 wanita, 225 anak-anak, dan 540 tahanan administratif.

(T.FJ/S: Palestina Today)

leave a reply