Israel Cegah Renovasi Bagian Timur Al-Aqsha

Pemandangan menyedihkan yang terlihat di dalam Al-Aqsha, khususnya di bagian timur, di mana debu telah menumpuk selama bertahun-tahun, karena pasukan pendudukan Israel melarang Lembaga Wakaf Islam Yerusalem untuk membersihkan dan membuangnya ke luar masjid.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,02 Aug 2021,01:38 AM

Yerusalem, SPNA - Otoritas pendudukan Israel, sebagaimana dilansir Palinfo pada Minggu (01/08/2021), terus mencegah tim khusus di Masjid Al-Aqsha untuk melakukan pekerjaan pembersihan atau perbaikan di bagian timur masjid.

Sejumlah sumber Yerusalem melaporkan pemandangan menyedihkan yang terlihat di dalam Al-Aqsha, khususnya di bagian timur, di mana debu telah menumpuk selama bertahun-tahun, karena pasukan pendudukan Israel melarang Lembaga Wakaf Islam Yerusalem untuk membersihkan dan membuangnya ke luar masjid.

Kawasan tersebut menjadi sasaran serangan intens yang dilakukan puluhan pemukim Israel setiap hari, bersamaan dengan pengusiran jamaah dan deportasi murabithun (para penduduk Yerusalem yang bertugas menjaga Al-Aqsha).

Para pemukim Israel sengaja melakukan ritual Talmud dan duduk di tempat tersebut dalam jangka waktu yang berbeda, dan intensitasnya terus meningkat seiring waktu. Dalam beberapa kasus sampai buang air kecil di kawasan tersebut.

Sejak tahun 1996, pendudukan Israel mulai merencanakan untuk melucuti kekuatan Lembaga Wakaf Islam Yerusalem yang mengurusi Al-Aqsha, dan penerapan rencana tersebut pertama terjadi pada akhir tahun 2000.

Pada saat itu, pasukan pendudukan Israel mencegah pemindahan bagian terakhir dari puing-puing akibat terbukanya gerbang besar ruang salat Marwani, sehingga puing-puing tersebut ditempatkan di area yang ditanami zaitun, sebelah timur masjid Al-Aqsha yang diberkati, sampai ditemukan cara untuk membuangnya.

Puing-puing ini tetap menumpuk sampai hari ini, yang merupakan pintu masuk paling menonjol bagi para pemukim dan pasukan pendudukan Israel untuk menargetkan halaman timur Al-Aqsha.

Pada Januari 2019, pendudukan Israel merampas wewenang untuk memulihkan tembok barat daya Al-Aqsha, dan kemudian “al-Khulwah al-Jambalathia” halaman masjid Kubah Batu pada bulan Mei, pada tahun yang sama. Pendudukan mencoba untuk membagi ruang dari Bab al-Rahma dan mengisolasi jamaah.

Pada tahun 2019, penduduk Yerusalem memaksa pendudukan Israel untuk membuka ruang salat, tapi mereka mencoba untuk menutupnya kembali dengan berbagai bentuk serangan pelecehan pelecehan, pengusiran, penangkapan, dan pemukulan. Walaupun begitu, hal ini gagal dilakukan.

Khatib Masjid Al-Aqsha, Syeikh Ikrima Sabri, sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa pelanggaran pendudukan Israel terhadap Al-Aqsha terus dilakukan berulang kali, dengan penangkapan, deportasi, penghancuran rumah, dan upaya Yahudisasi Masjid Al-Aqsha.

Syeikh Sabri memperingatkan bahaya permintaan kelompok ekstremis pemerintah pendudukan Israel untuk membangun sekolah Talmud di alun-alun timur Al-Aqsha, dengan tujuan mendirikan tempat baru di dalamnya setelah mereka gagal mengendalikan Bab al-Rahma menjadi sinagoga.

Sheikh Sabri memperingatkan bahwa pendudukan Israel sedang mencoba untuk merebut kekuasaan Lembaga Wakaf Islam di Al-Aqsa dan secara bertahap ingin mengontrol kota suci Yerusalem. Ia juga mencela beberapa negara yang hanya mampu menentang Israel dengan pernyataan kecaman.

Syeikh Sabri menunjukkan bahwa kebijakan pembagian temporal dan spasial yang coba diterapkan oleh pendudukan Israel dimulai puluhan tahun yang lalu, tetapi respon penduduk Yerusalem dan penduduk Palestina terhadap rencana itu mampu mencegah penerapan kebijakan Israel di Yerusalem.

Israel terus bersikeras untuk menerapkan kebijakan tersebut dengan meningkatkan serangan dan meningkatkan durasi waktu serbuan pemukim Israel di dalam kompleks menjadi sekitar 40 menit.

(T.FJ/S: Palinfo)

leave a reply
Posting terakhir