Laporan: Agresi 2021, 90% Anak-anak Gaza Alami Gangguan Stres Pasca Trauma

Dalam laporan bertajuk 'War One Older", Euro-Med Monitor mendokumentasikan penderitaan yang dialami anak-anak dan wanita, yang memenuhi 50% dan 40% total penduduk Jalur Gaza.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Tue,10 Aug 2021,10:38 AM

Jenewa, SPNA - Sembilan dari 10 anak-anak di Gaza menderita gangguan stres pasca trauma setelah serangan militer Israel pada Mei lau. Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania melaporkan.

Dalam laporannya, Euro-Med mendokumentasikan penderitaan yang dialami dua kelompok yang paling rentan di Jalur Gaza, yaitu wanita dan anak-anak. Laporan bertajuk 'War One Older" tersebut menyebutkan bahwa sekitar 50% dari dua juta jiwa penduduk Jalur Gaza adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun dan 40% lainnya adalah wanita.

Lembaga ini menunjukkan bahwa sepanjang agresi yang dinamai “Guardian of the Walls” atau “Operasi Penjaga Tembok” atas Jalur Gaza pada Mei lalu, Israel melakukan serangan yang tidak proposional terhadap permukiman padat penduduk yang mayoritas (75%) dihuni oleh anak-anak.

Selain menyebutkan jumlah kematian dan cedera pada anak-anak dan wanita, Euro-Med Monitor juga mengungkapkan bahwa 241 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya akibat pengeboman. Sementara itu, sekitar 5.400 anak kehilangan rumah (hancur total atau rusak parah), dan 42.000 lainnya rusak sebagian.

Laporan ini muncul setelah lebih dari lima pekan penelitian oleh  Euro-Med Monitor, yang mendokumentasikan ratusan kasus penargetan langsung rumah-rumah warga sipil yang sebagian besar dihuni oleh anak-anak dan wanita.

Sebanyak 72.000 anak-anak mengungsi ke sekolah-sekolah UNRWA atau rumah kerabat mereka selama serangan Israel. Sementara, hingga laporan ini dirilis, lebih dari 4.000 anak masih mengungsi.

Mariam Dawwas, peniliti lapangan di Euro=Med Monitor, mengatakan bahwa dia dan tim lapangan mendokumentasikan ratusan kasus penargetan langsung warga sipil di rumah mereka dalam serangan besar dan ganas yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jalur Gaza.

Dawwas, yang juga mengungsi bersama anaknya setelah jet Israel menghantam apartemennya, mengatakan, "Tidak banyak berbeda dengan tiga agresi Israel sebelumnya di Gaza, kecuali satu hal. Hari ini, saya termasuk di anatara mereka yang saya dokumentasikan dan foto. Saya berlari bersama mereka, berteriak mencari putri kecilku dan meninggalkan rumah setelah Israel menargetkan apartemen kami."

"Hari ini, bersama Sopie, putriku yang masih berusia tiga tahun, kami terus berusaha untuk hidup normal setelah mengalami gangguan trauma pasca perang, sebagaimana kebanyakan penduduk Gaza," imbuhnya.  

Laporan itu juga menunjukkan bahwa hampir 2.500 ibu hamil yang akan melahirkan dalam tiga bulan pasca agresi, dapat mengalami komplikasi saat melahirkan, yang disinyalir sebagai dampak dari agresi, baik langsung maupun tidak.

Lebih dari 60 anak gugur dalam agresi Israel yang berlangsung 11 hari di Jalur Gaza. Sementara, setidaknya 470 anak dari 310 ibu mengalami luka-luka.

Mei lalu, Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengeluarkan laporan pertamanya tentang serangan militer Israel di Jalur Gaza yang bertajuk "Inescapable Hell" atau "Neraka Tak Terhindarkan", yang mendokumentasikan kasuk-kasus penargetan massal keluarga dan infrastruktur di sana.

(T.RA/S: Euro-Mediterranean Human Rights Monitor)

leave a reply