Lina Al-Hourani Asal Universitas Yordania Korbankan Satu Juta Dolar Demi Tolak Normalisasi

Lina, yang berusia 21 tahun tidak ngiler untuk mendapatkan hadiah jutaan dolar. Dia percaya bahwa prinsipnya tidak dapat ditawar-tawar. Jika dia tetap melanjutkan kompetisi, mungkin dia akan memperoleh juatan dolar. Namun masalahnya berkaitan dengan Palestina, maka tidak ada kata tawar lagi baginya.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Fri,03 Sep 2021,10:08 AM

Amman, NPC – Mahasiswi arsitektur Universitas Yordania, Lina Al-Hourani, bertekad untuk mengharumkan nama baik tanah airnya, hingga ia dan timnya, perwakilan dari Yordania, mencapai tahap akhir Kompetisi Internasional Bloomberg, sebelum akhirnya mundur, menolak kehadiran perwakilan tim pendudukan Israel.

Lina, yang berusia 21 tahun tidak ngiler untuk mendapatkan hadiah jutaan dolar. Dia percaya bahwa prinsipnya tidak dapat ditawar-tawar. Jika dia tetap melanjutkan kompetisi, mungkin dia akan memperoleh juatan dolar. Namun masalahnya berkaitan dengan Palestina, maka tidak ada kata tawar lagi baginya.

“Tetapi masalahnya terkait dengan Palestina, dan tidak boleh bersikap diam atau setengah-solusi,” katanya.

Gadis yang berasal dari desa Al Masmiya Al Saghira di kota pendudukan Ramle, barat laut Yerusalem itu, ia belum pernah melihat Palestina tetapi dia melukis dengan kuasnya gambar-gambar yang paling indah.

“Prinsip saya tidak memungkinkan saya untuk bersaing dengan mereka yang mendistorsi citra negara saya dalam kontes kecantikan internasional,” tegasnya.

Dia bertanya, apakah orang yang membunuh, merampok, dan menduduki menguasai keindahan dalam menggambar?

“Saya tidak akan melegitimasi keberadaan Israel, dan saya tidak akan memberinya kesempatan untuk melanjutkan penjajahannya atas Palestina,” sambungnya.

Al-Hourani menegaskan bahwa nilai hadiah yang berjumlah satu juta dolar AS, tidak bisa membeli prinsipnya.

“Saya dibesarkan dengan prinsip, yang dasarnya adalah Palestina, jadi posisi saya dalam masalah ini tidak dikompromikan, sementara hal-hal lainnya tidak menarik minat saya,” ujar Al-Hourani.

Al-Hourani yang menerima ribuan pujian di media sosial itu, tetap membuka pintu mengenai reaksi resmi yang diharapkan.

“Saya tidak mengalami tekanan apa pun atau tidak ditekan untuk mundur, saya juga tidak merasa terhormat atau gila uacapan terima kasih. Tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi saya berharap masalah ini akan berkembang. Kurva positif memperkuat posisi saya,” katanya.

Al-Hourani menolak gagasan melanjutkan kompetisi seperti yang disarankan oleh beberapa orang. Namun dirinya menegaskan, bahwa ini soal prinsip yang tak dapat dikompromikan.

“Masalahnya jauh melampaui simbolisme langkah. Penolakan normalisasi ilmiah adalah bagian dari penolakan normalisasi secara umum. Dan kompetisi saya dengan mereka yang menyerang Palestina itu berarti saya mengakui keberekaan mereka. Maka saya tolak ini,” tandasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa hambatan terbesar untuk memperluas lingkaran pemukiman dan normalisasi dengan Israel adalah opini publik di kawasan Arab.

“Karenanya langkah saya adalah upaya untuk memperkuat bendungan ini dalam menghadapi normalisasi,” lanjutnya.

Dia percaya bahwa langkahnya mewakili pesan terima kasih dan perjuangan bagi mereka yang mengorbankan hidup mereka demi Palestina, dan juga merupakan pesan kepada para tahanan yang terluka bahwa pejuang Palestina sedang dalam perjalanan, dan mengucapkan selamat tinggal entitas kanker ini (Israel, red).

Al-Hourani menambahkan dirinya menghormati sudut pandang mereka yang bertahan dalam kompetisi. Mereka memiliki pendapat yang berharga dan posisi yang terhormat. Mereka melihat kelangsungan hidup mereka dalam kompetisi dan berkompetisi dengan Israel sebagai perlawanan. Ini perspektif yang berbeda.

Departemen Arsitektur Universitas Yordania telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kompetisi internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Amerika (John Hopkins), untuk menemukan solusi bagi kota-kota di dunia ini untuk pulih dari dampak epidemi “Corona” di bidang ekonomi, lingkungan dan tingkat perkotaan.

Sebanyak 631 kota, mewakili 99 negara, memenuhi syarat untuk mengikuti kompetisi ini, dan 50 kota dinominasikan untuk tahap akhir. Amman mewakilinya di Timur Tengah, bersama dengan Tel Aviv, karena mereka memenuhi syarat untuk bersaing memperebutkan 15 kursi pertama untuk memenangkan hadiah satu juta dolar.

(NPC/S: Palinfo)

leave a reply
Posting terakhir