Israel Menghancurkan Lebih 9.000 Pohon Palestina di Tepi Barat dalam Setahun Terakhir

“Selama bertahun-tahun, ICRC telah mengamati peningkatan tahunan kekerasan yang dilakukan oleh pemukim Israel yang tinggal di beberapa permukiman di Tepi Barat terhadap petani Palestina dan berbagai fasilitas milik mereka pada masa menjelang panen zaitun, juga selama musim panen pada bulan Oktober dan November,” sebut kepala delegasi ICRC di Yerusalem, Els Diboff.

BY 4adminEdited Wed,13 Oct 2021,02:54 PM

Tepi Barat, SPNA - Komite Palang Merah Internasional (ICRC), pada Selasa (12/10/2021), mengkonfirmasi bahwa pasukan pendudukan Israel telah menghancurkan sebanyak lebih dari 9.300 pohon milik penduduk Palestina di Tepi Barat yang diduduki, selama setahun terakhir.

ICRC menyerukan agar para petani Palestina dapat mendapatkan akses yang aman ke ladang zaitun di Tepi Barat secara tepat waktu, sesuai musim panen zaitun.

Seruan ini dikeluarkan di tengah tiga tantangan berat yang dihadapi para petani Palestina dan keluarganya di Tepi Barat; pertama, pembatasan akses yang diberlakukan kepada petani yang ladangnya terletak di belakang tembok pemisah di Tepi Barat dan dekat pemukiman; kedua, meningkatnya tekanan dan kekerasan yang dilakukan para pemukim Israel terhadap para petani Palestina dan fasilitas milik mereka, yang meningkat secara signifikan selama musim panen zaitun; kemudian ketiga, meningkatnya efek perubahan iklim.

Data ICRC menunjukkan bahwa selama satu tahun terakhir (Agustus 2020 - Agustus 2021), pasukan pendudukan Israel telah menghancurkan lebih dari 9.300 pohon di Tepi Barat.

Hal ini semakin memperparah situasi yang sudah sulit dan meningkatkan krisis, karena petani yang ladangnya terletak di belakang dinding pemisah atau di dekat permukiman Israel harus mengajukan izin khusus dan berkoordinasi terlebih dahulu untuk mengakses lahan mereka.

“Selama bertahun-tahun, ICRC telah mengamati peningkatan tahunan kekerasan yang dilakukan oleh pemukim Israel yang tinggal di beberapa permukiman di Tepi Barat terhadap petani Palestina dan berbagai fasilitas milik mereka pada masa menjelang panen zaitun, juga selama musim panen pada bulan Oktober dan November,” sebut kepala delegasi ICRC di Yerusalem, Els Diboff.

Ia menambahkan bahwa para petani juga menjadi target serangan dan kekerasan yang bertujuan untuk menghalangi keberhasilan panen, menghancurkan peralatan pertanian, dan mencabut serta membakar pohon zaitun.

“Ini adalah masalah yang sangat memprihatinkan. Kami akan melanjutkan dialog dengan otoritas yang bertanggung jawab,” sebut Els Diboff.

Tim lapangan ICRC di seluruh Tepi Barat memantau dengan cermat pembatasan akses petani Palestina ke lahan mereka dan titik-titik kekerasan yang mempengaruhi petani Palestina selama panen zaitun, dan sedang berdialog dengan otoritas Israel dan Administrasi Sipil agar dapat melakukan panen yang aman.

Selain pembatasan akses dan kekerasan, factor perubahan iklim, dan pola cuaca telah memperburuk krisis bagi petani Palestina, akibatnya tahun 2020 mencatat panen zaitun yang sangat buruk dan penurunan panen zaitun sebesar 55 persen.

Hal ini kemudian dipengaruhi lagi oleh persebaran curah hujan dan suhu yang tidak merata selama proses pertumbuhan.

ICRC menunjukkan bahwa pihaknya mendukung petani Palestina yang ladang zaitunnya terletak di dekat tembok pemisah apartheid di Tepi Barat atau di dekat permukiman sepanjang musim panen, dengan membantu mereka mencapai lahan mereka dengan aman dan tepat waktu.

ICRC juga mencari solusi untuk membantu menjaga perawatan pohon zaitun yang aman, tanpa perlu adanya kunjungan rutin para petani ke lahan mereka, dengan menyediakan perangkap ramah lingkungan yang mengendalikan lalat buah.

Selain membantu petani dengan menjaga lahan mereka tetap produktif, masih banyak yang perlu dilakukan. Zaitun adalah salah satu sumber mata pencaharian utama bagi para petani Palestina, di mana dari 100.000 keluarga bekerja di bidang ini.

Oleh karena demikian, ICRC akan memastikan petani memiliki akses berkelanjutan dan aman ke lahan zaitun dan tanaman lainnya di seluruh Tepi Barat.

(T.FJ/S: Palinfo)

leave a reply