RS Al-Shifa di Jalur Gaza Terisolasi, Tanpa Stok Makanan atau Minuman Selama 8 Hari

Ashraf Al-Qudra menjelaskan bahwa makanan yang diperbolehkan dibawa masuk hanya cukup bagi 400 orang. Ashraf Al-Qudra mengkonfirmasi bahwa sebanyak 51 pasien, termasuk 4 bayi prematur, selama periode ini. Ia memperingatkan bahwa jika situasi terus berlanjut, jumlah korban jiwa akan berlipat ganda.

BY 4adminEdited Sat,18 Nov 2023,10:43 AM

Gaza, SPNA - Juru bicara Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, Ashraf Al-Qudra, sebagaimana dilansir Aljazeera, pada Sabtu (18/11/2023), menggambarkan situasi di Rumah Sakit Al-Shifa dalam bencana besar. Ia menyatakan bahwa Rumah Sakit Al-Shifa terisolasi dari dunia luar akibat pemutusan sarana komunikasi, dan tidak ada persediaan makanan atau air yang masuk selama 8 hari ini.

Ashraf Al-Qudra menunjukkan bahwa para pasien di Kompleks Al-Shifa kelaparan, kesakitan, dan sekarat. Para pengungsi ada yang tidak mendapatkan sepotong roti pun. Sementara itu, tumpukan sampah menjadi ancaman baru bagi para para pasien dan pengungsi yang terjebak di Rumah Sakit Al-Shifa, yang berjumlah antara 7.000 hingga 10.000 orang.

Ashraf Al-Qudra menjelaskan bahwa makanan yang diperbolehkan dibawa masuk hanya cukup bagi 400 orang. Ashraf Al-Qudra mengkonfirmasi bahwa sebanyak 51 pasien, termasuk 4 bayi prematur, selama periode ini. Ia memperingatkan bahwa jika situasi terus berlanjut, jumlah korban jiwa akan berlipat ganda.

Ashraf Al-Qudra mengakhiri pernyataannya dengan mengatakan bahwa tentara Israel menghancurkan infrastruktur Rumah Sakti Al-Shifa, penampungan air, dan jaringan oksigen. Ia menekankan bahwa 1.500 staf medis, ratusan pasien, dan 7.000 pengungsi pada saat ini menghadapi resiko kematian. Ia kembali menuntut jalur yang aman untuk memasukkan pasokan medis, makanan, dan bahan bakar.

Tentara Israel menyerbu Rumah Sakit Al-Shifa, pada Rabu dini hari lalu, setelah mengebom dan mengepung rumah sakit tersebut selama beberapa hari.

Sementara itu, hingga pada hari ke-42 perang di Jalur Gaza, Israel masih terus melakukan pemboman intensif di beberapa lokasi di Jalur Gaza. Militer pendudukan Israel menyerang dan menargetkan apa saja, khususnya rumah sakit, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka pada penduduk sipil. Kantor media pemerintah Palestina di Jalur Gaza menyebutkan bahwa tentara Israel telah menjatuhkan lebih 32.000 ton bahan peledak atau lebih 13.000 bom sejak 7 Oktober lalu.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, hingga pada Jumat (17/11/2023), sebanyak lebih 12.000 penduduk Palestina meninggal dunia dalam serangan udara militer pendudukan Israel, termasuk di antaranya 5.000 anak-anak dan 3.300 perempuan. Sementara itu, lebih 30.000 orang mengalami luka-luka, di mana 75 persen merupakan anak-anak dan perempuan. Ribuan penduduk Palestina lainnya masih hilang di dalam reruntuhan akibat serangan bom Israel.

(T.FJ/S: Al Jazeera)

leave a reply