Euro-Med Monitor Tegaskan Israel Terlibat Penuh dalam 'Pembantaian Tepung' di Gaza

Peneliti Euro-Med Monitor, Muhammad Qariqa, mengatakan bahwa tim lapangan Euro-Med Monitor yang berada pada saat kejadian mendokumentasikan tank-tank Israel menembaki penduduk sipil Palestina ketika mencoba mengambil bantuan kemanusiaan di bundaran Nabulsi.

BY 4adminEdited Mon,04 Mar 2024,05:59 PM

Gaza, SPNA - Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Internasional, Euro-Med Monitor, pada Minggu (03/03/2024), mengkonfirmasi bahwa penyelidikan awal terhadap 'pembantaian tepung' di bundaran Nabulsi di barat daya Kota Gaza terhadap penduduk sipil Palestina yang berusaha menerima bantuan kemanusiaan berupa tepung pada Kamis dini hari (29/02/2024), menegaskan keterlibatan penuh Israel dalam kejahatan tersebut dan menyerukan penyelidikan internasional yang efektif untuk meminta pertanggungjawaban pejabat Israel.

Selama konferensi pers yang diadakan di Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, Euro-Med Monitor berbagi temuan penyelidikan awal atas insiden tersebut dan kesaksian sejumlah korban di tengah upaya tentara Israel untuk memanipupasi insiden tersebut dengan menyatakan bahwa kematian para korban akibat serbuan.

Peneliti Euro-Med Monitor, Muhammad Qariqa, mengatakan bahwa tim lapangan Euro-Med Monitor yang berada pada saat kejadian mendokumentasikan tank-tank Israel menembaki penduduk sipil Palestina ketika mencoba mengambil bantuan kemanusiaan di bundaran Nabulsi.

Muhammad Qariqa menjelaskan bahwa serangan Israel tersebut menyebabkan 115 penduduk sipil meninggal dunia dan 760 lainnya mengalami luka-luka. Sementara itu, banyak korban jiwa diyakini masih berada di tempat kejadian.

Muhammad Qariqa menyoroti bahwa temuan Euro-Med menunjukkan bahwa puluhan korban menderita luka tembak, bukan tertabrak atau tertindih, berbeda dengan klaim juru bicara militer Israel.

Muhammad Qariqa lebih lanjut menyoroti empat bukti yang mengkonfirmasi keterlibatan tentara Israel yang membunuh dan melukai warga sipil yang kelaparan. Bukti pertama adalah tanda-tanda luka pada tubuh korban meninggal dan terluka. Bukti kedua adalah rekaman yang dirilis oleh tentara Israel sendiri, yang mencakup bukti suara tembakan yang berasal dari tank Israel yang ditempatkan di dekat pantai.

Bukti ketiga adalah video udara yang dipublikasikan oleh tentara Israel, yang sengaja dipotong-potong dan "diolah" demi menjauhkan keterlibatan Israel, akan tetapi pada menit 1:06, rekaman video menunjukkan adanya setidaknya dua tank Israel, serta beberapa mayat di jalur tank, bukan truk bantuan.

Muhammad Qariqa juga bukti lainnya yang menunjuk pada ciri khas suara peluru tersebut, yang terdengar dalam rekaman yang dirilis pada saat penembakan. Suara itu mengidentifikasi bahwa peluru tersebut berasal dari senjata otomatis yang digunakan oleh tentara Israel dengan peluru kaliber 5,56.

Kepala departemen keperawatan di Rumah Sakit Al-Shifa, Jadallah Al-Shafi'i, mengatakan selama konferensi bahwa paramedis dan tim penyelamat termasuk di antara korban penembakan Israel terhadap penduduk sipil yang berkumpul di bundaran Nabulsi untuk menerima persediaan makanan.

Jadallah Al-Syafi'i menyatakan bahwa pihaknya mengamati puluhan korban jiwa dan korban luka setibanya di Rumah Sakit Al-Shifa, akibat terkena tembakan Israel. Ia juga menekankan bahwa semua dokumentasi, termasuk hasil rontgen dan laporan medis, dapat diakses oleh media, kelompok hak asasi manusia, atau komite investigasi.

Spesialis unit gawat darurat di Rumah Sakit Al-Shifa, Amjad Aliwa, menceritakan bahwa dirinya bersama para dokter dan perawat serta ribuan penduduk sipil di bundaran Nabulsi menunggu bantuan kemanusiaan tiba. Kemudian, tentara Israel melepaskan tembakan keras ke semua orang yang menunggu bantuan begitu truk tiba pada hari Kamis pukul 4 pagi.

Amjad Aliwa menyebutkan bahwa kejahatan kemanusiaan yang terjadi di bundaran Nabulsi merupakan pembantaian yang mengerikan.

Euro-Med Monitor memperingatkan bahwa penembakan Israel terhadap penduduk sipil Palestina yang kelaparan yang menunggu bantuan telah menjadi praktik kejahatan biasa bagi Israel. Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Israel secara langsung menyerang dan membunuh puluhan orang di kota Gaza, termasuk di Jalan Salahuddin dan di sekitar Bundaran Kuwait.

Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Israel yang telah diadili di hadapan pengadilan internasional atas tuduhan melakukan genosida terhadap warga Palestina, masih terus melancarkan perang dahsyat di Gaza yang hingga hari Minggu (03/03/2024), telah membunuh 30.410dan melukai 71.700 orang, di mana sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Ribuan penduduk Palestina di Jalur Gaza masih hilang di bawah reruntuhan bangunan yang dibom Israel.

Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.

(T.FJ/S: Euro-Med Monitor)

leave a reply
Posting terakhir