Untuk pertama kalinya anak-anak Gaza kunjungi kota Al-Quds

Bethlehem, SPNA - Sekelompok anak-anak Palestina dari Jalur Gaza, untuk pertama kalinya melakukan perjlanan ke Al-Quds, Ahad (21/08/2017),

BY 4adminEdited Tue,22 Aug 2017,10:34 AM
7.jpg

Ma’an News - Gaza City

Bethlehem, SPNA - Sekelompok anak-anak Palestina dari Jalur Gaza, untuk pertama kalinya melakukan perjlanan ke Al-Quds, Ahad (21/08/2017), sebagai bagian dari sebuah proyek yang diselenggarakan oleh Badan Bantuan dan Urusan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).

Menurut juru bicara UNRWA, perjalanan tersebut merupakan bagian dari program pertukaran musim panas UNRWA antara anak-anak Palestina dari Gaza dan Tepi Barat "agar setiap anak bisa melihat bagian lain dari Palestina."

Scott Anderson, Direktur Operasi UNRWA di Tepi Barat, mengatakan kepada Ma'an bahwa untuk semua anak yang berasal dari Gaza, ini adalah kali pertama mereka mengunjungi Al-Quds.

Terdapat 91 anak dari Gaza, semuanya berusia 14 tahun, melakukan perjalanan, di mana mereka mengunjungi Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Suci di Kota Tua Al-Quds.

Bagi 84 anak, perjalanan tersebut merupakan kali pertama mereka melangkahkan kaki ke luar Gaza, yang telah menderita akibat blokade Israel baik di darat , laut, maupun udara, yang telah berlangsung selama 10 tahun.

"Mereka sangat gembira," kata Anderson kepada Ma'an, ia menambahkan bahwa banyak anak mengatakan kepadanya "ini seperti mimpi yang nyata."

Anak-anak, yang didampingi sembilan pendamping dari Gaza, menuju Ramallah di Tepi Barat pada hari Ahad malam, untuk beristirahat pada akhir minggu ini.

Perjalanan tersebut merupakan kesempatan langka bagi anak-anak Gaza. Blokade yang telah berlangsung selama satu dekade membuat perjalanan ke luar daerah tersebut menjadi barang mewah yang jarang terjadi.

Akibat akses ke perbatasan Rafah yang dikuasai Mesir sangat jarang dan sulit diprediksi, banyak warga Palestina di Gaza bergantung pada persimpangan Erez yang dikendalikan oleh Israel agar bisa keluar dari wilayah yang terkepung tersebut.

Namun, jumlah izin keluar dari Israel yang diberikan kepada warga Palestina dari Gaza telah turun secara dramatis," ungkap LSM Gisha pada awal bulan ini. Jumlah izin yang diberikan setiap bulannya oleh Israel turun menjadi setengah dari jumlah yang dikeluarkan pada tahun 2016.

Blokade Israel selama satu dasawarsa telah membuat dua juta warga Palestina di Jalur Gaza terkoyak dan menjadi salah satu kawasan dengan tingkat pengangguran tertinggi di dunia.

Pada tahun 2012, PBB memperingatkan bahwa Gaza bisa menjadi daerah tidak layak huni pada tahun 2020, jika apa yang terjadi saat ini tidak diubah. Namun, dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada bulan Juli lalu, PBB mengatakan bahwa "rata-rata kondisi kehidupan warga Palestina di Gaza semakin parah." Ditambahkan pula, bagi mayoritas penduduk Gaza, wilayah tersebut mungkin sudah tidak dapat dipulihkan. (T.RA/S: Ma’an News)

leave a reply