Jurnalis Gaza menjadi target penembak jitu Israel

Sejak tahun lalu, dua wartawan gugur, 360 lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel di Gaza.

BY adminEdited Wed,07 Aug 2019,12:53 PM

Anadolu Agency - Gaza

Gaza, SPNA - Wartawan Palestina yang meliput protes mingguan terhadap pendudukan Israel selama puluhan tahun mengeluh karena menjadi sasaran penembak jitu Israel yang ditempatkan di sepanjang perbatasan wilayah yang diblokade.

Sejak protes dimulai pada bulan Maret tahun lalu, dua wartawan telah ditembak mati dan belasan orang terluka oleh tembakan Israel di dekat zona penyangga Gaza-Israel.

Pekan lalu, dua wartawan terluka akibat ditembak ketika mereka meliput protes terhadap pendudukan Israel, menurut Komite Dukungan Jurnalis (JSC) di Palestina.

Osama Al-Kahlout, seorang jurnalis foto, ditembak di bagian kaki dengan, sementara Hatem Omar, yang bekerja untuk kantor berita Xinhua China, terluka oleh peluru karet.

"Tidak ada yang memiliki kekebalan di sepanjang perbatasan Gaza," Al-Kahlout (33), yang ditembak di timur kamp pengungsi al-Bureij di Jalur Gaza tengah, mengatakan kepada Anadolu Agency.

"Pasukan pendudukan Israel menargetkan wartawan, paramedis, warga dan bahkan orang cacat," katanya. "Semua orang berada dalam target penembak jitu Israel."

Al-Kahlout mengatakan bahwa dia telah menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal sebelum tertembak di bagian kaki.

Para jurnalis foto percaya bahwa "panggilan itu datang dari tentara Israel sehingga ia dapat secara akurat ditemukan dan ditargetkan secara langsung."

Dia mengkonfirmasi bahwa dirinya mengenakan perisai yang membawa lencana pers dan bekerja di daerah yang relatif jauh dari para demonstran.

Menurut al-Kahlout, empat wartawan sebelumnya telah terluka ketika meliput protes mingguan di daerah yang sama di mana dia ditembak, di timur kamp pengungsi al-Bureij.

"Pasukan Israel menargetkan wartawan dalam upaya untuk mencegah mereka mengungkap kejahatan dan pelanggaran mereka terhadap demonstrasi damai ke seluruh dunia," katanya.

Omar dari kantor berita Xinhua juga ditembak dengan peluru karet saat meliput demonstrasi di sebelah timur kota Khan Younis di Jalur Gaza selatan.

"Saya ditembak oleh dua peluru karet di kedua kaki, meskipun saya mengenakan perisai pers dan bekerja di daerah yang jauh dari para demonstran," kata Omar kepada Anadolu Agency.

Menuduh tentara Israel menargerkan jurnalis internasional di Gaza, Omar mengatakan, "Dalam banyak insiden, kelompok wartawan menjadi sasaran gas air mata atau peluru saat bekerja di daerah yang jauh dari para demonstran."

Ahmed Ghanem, seorang koresponden untuk televisi Al-Mayadin, mengatakan bahwa tentara Israel menargetkan wartawan "untuk mencegah mereka melakukan tugas mereka."

"Para jurnalis Palestina telah membuktikan kekuatan dan kemampuan mereka untuk mengungkap kejahatan pendudukan dan untuk menyampaikan pesan orang-orang Palestina di Gaza kepada dunia," katanya. "Hal ini mengganggu Israel dan mempermalukannya di hadapan komunitas internasional."

PenuntutanTahseen al-Astal, wakil presiden Persatuan Jurnalis Palestina, mengatakan bahwa organisasinya sedang mempersiapkan "file hukum tentang pelanggaran Israel terhadap jurnalis, untuk diajukan ke pengadilan internasional guna menuntut para pemimpin Israel."

Dia mengatakan bahwa Persatuan Jurnalis telah mengirim surat ke Federasi Wartawan Internasional, Persatuan Wartawan Arab, dan UNESCO "untuk memberi tahu mereka tentang pelanggaran Israel terhadap jurnalis."

Menurut Salama Maarouf, juru bicara pemerintah di Gaza, sekitar 360 wartawan telah terluka akibat tembakan tentara Israel sejak demonstrasi di Gaza dimulai pada Maret 2018.

Demonstran menuntut diakhirinya 12 tahun blokade Israel di Jalur Gaza, yang telah menghancurkan ekonomi daerah kantong pantai dan merampas dua juta penduduknya dari banyak kebutuhan dasar.

Sejak unjuk rasa Gaza dimulai tahun lalu, hampir 270 pemrotes telah gugur- dan ribuan lainnya terluka - oleh pasukan Israel yang dikerahkan di dekat zona penyangga.

(T.RA/S: Anadolu Agency)

leave a reply