PBB : Israel Terbukti Lakukan Pelanggaran HAM Terhadap Demonstran Palestina

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, mengatakan bahwa Israel terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dalam demonstrasi Great March of Return di Jalur Gaza sejak Maret 2018.

BY adminEdited Tue,10 Sep 2019,11:34 AM

Jenewa

Jenewa, SPNA - Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, mengatakan bahwa Israel terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dalam aksi Great March of Return di Jalur Gaza sejak Maret 2018.

Dilansir Youm7, Bachelet menjelaskan bahwa berdasarkan hukum internasional Israel wajib menyelidiki dengan serius terkait kasus pembunuhan terhadap warga Palestina di perbatasan Gaza.

Menurut keterangannya, jaksa penuntut umum telah menyelidiki 11 kasus pembunuhan  termasuk pembunuhan dua remaja Palestina dalam Great March of Return. Sayangnya sampai saat ini tidak ada informasi lanjutan terkait hal ini.

Dalam Sidang Dewan HAM ke-42 di Jenewa pada hari Senin, (09/09/2019) pejabat PBB tersebut menyatakan prihatin atas  pelanggaran HAM terhadap anak-anak Palestina. Kebanyakan remaja Palestina  masih terus berpartisipasi dalam aksi protes tersebut setiap Jumat.

“Anak-anak Palestina dihadapkan dengan kekerasan yang tidak dapat diterima hukum. Israel tidak hanya menggunakan gas air mata atau peluru berlapis karet, mereka juga menggunakan peluru tajam terhadap demonstran. Akibatnya sejak 22 Maret 2019, sebanyak 13 warga Palestina meregang nyawa dibunuh pasukan Israel.”

“Demonstran Palestina tidak mengancam nyawa atau melukai prajurit Israel, namun mereka tetap dibunuh.”

Great March of Return telah dimulai sejak 30 Maret 2018 menuntut Israel menghapus blokade terhadap Gaza dan memulangkan kembali pengungsi Palestina. Sejak saat itu  tercatat 327 warga Palestina meninggal dunia akibat ditembak pasukan Israel sementara 31.000 lainnya luka-luka.

Sejak 12 tahun lalu Israel menutup akses keluar masuk ke Gaza. Blokade terhadap wilayah selatan Palestina tersebut berhasil merusak sistem perekonomian di Gaza. Hampir setengah warganya hidup miskin dan pengangguran. Mereka hanya menggantungkan hidup dari bantuan kemanusiaan.

Gaza juga mengalami masalah medis serta pencemaran lingkungan akibat krisis listrik. Melihat Gaza yang hancur akibat blokade, Sekjen PBB memprediksi bahwa lokasi ini akan menjadi wilayah tak layak huni 2020 mendatang.

Akibatnya warga dan pejuang Gaza melakukan perlawanan baik dalam bentuk serangan roket atau demonstrasi damai.

(T.RS/S:Youm7)

leave a reply
Posting terakhir