Peringatan perang 6 Oktober, pasukan Mesir paksa Israel angkat kaki dari Sinai

Suriah, Libya dan Mesir menyerbu Israel secara tiba-tiba. Di dataran tinggi Golan, garis pertahanan Israel yang hanya berjumlah 180 tank harus berhadapan dengan 1400 tank Suriah. Sedangkan di terusan Suez, kurang dari 500 prajurit Israel berhadapan dengan 80.000 prajurit Mesir.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sun,06 Oct 2019,12:14 PM

Kairo, SPNA - Juru bicara militer Mesir meresmikan kembali peringatan perang 6 Oktober 1973 hari ini, Minggu (06/10/2019).

Perang 6 Oktober, juga dikenal dengan perang 10 Ramadhan mempertemukan Mesir dan Libya di front Selatan dan Suriah di front utara melawan pasukan Israel.

Perang tersebut terjadi bertepatan dengan hari raya Yahudi Yom Kippur serta  bertepatan dengan bulan Ramadan bagi umat Islam sehingga dinamakan “Perang Ramadan 1973”.

Suriah, Libya dan Mesir menyerbu Israel secara tiba-tiba. Di dataran tinggi Golan, garis pertahanan Israel yang hanya berjumlah 180 tank harus berhadapan dengan 1400 tank Suriah. Sedangkan di terusan Suez, kurang dari 500 prajurit Israel berhadapan dengan 80.000 prajurit Mesir.

Dilansir Skynews, sejumlah dokumenter yang diperlihatkan Juru bicara militer Mesir, Kolonel Tamer al-Rifai, merekam momen paling penting dalam perang tersebut.

Dokumenter tersebut juga merekam pidato yang disampaikan Presiden Mesir,  Anwar Sadat saat itu setelah pasukan Mesir berhasil meneronos Terusan Suez dalam waktu singkat.

Mayor Jenderal, Arkan Harb, salah satu pahlawan Perang 6 Oktober, dan seorang pakar militer mengatakan bahwa ada 3 hal yang tidak boleh dilakukan siapapun terhadap rakyat Mesir, pertama  penistaan terhadap agama di Mesir, penghinaan terhadap kehormatan warga Mesir serta perebutan wilayah Mesir.

Siapapun yang mencoba melakukan 3 hal ini terhadap rakyat Mesir, maka mereka akan bangkit dan melawan habis-habisan.

Dalam program acara Misr Innahardah, Arkan Harb menjelaskan bahwa persiapan perang Oktober tidak terjadi sejak 1971 namun sejak almarhum Presiden Gamal Abdel Nasser mengatakan bahwa apa yang direbut Israel dengan paksa tidak akan dapat kembali direbut kecuali dengan paksa.

Menurut keterangannya, Israel saat itu berupaya mengubah identitas Sinai dan mencoba memisahkannya dari Mesir pada 1956 lalu 1967.

“Israel menghasut warga Sinai untuk berpisah dari Mesir, tetapi  mereka dengan tegas menolak ajakan tersebut. Salah satu petua suku Sinai mengatakan di muka prajurit Israel, Sinai adalah Mesir. Kalian (Israel) tak lebih dari penjajah. Kami tak sudi Sinai jatuh ke tangan kalian.”

Tidak hanya itu, Israel juga menggunakan cara lain untuk mengambil alih Sinai. Pada 1990-an mereka menawarkan pemuda Sinai untuk menikahi gadis-gadis Israel, tujuannya tak lain agar anak-anak mereka kelak mendukung Isral. Sayangya masyarakat Sinai mengerti tipu daya ini.

Menurut BBC, tahun 1970 merupakan tahun dimana  Perang Dingin sedang memuncak, dimana  Amerika Serikat mendukung Israel dan Uni Soviet mendukung Mesir  dan Suriah.

Amerika Serikat memproduksi senjata terbaik lalu menyuplainya ke Israel agar Tel Aviv dapat membendung pasukan Mesir dan Suriah.

Uni Soviet juga tidak tinggal diam. Melihat tindakan Uni Soviet, Amerika Serikat segera mempersiapkan kekuatannya. Kemudian, Raja Faisal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi mengumumkan  pembatasan produksi minyak.

Krisis energi muncul dan negara-negara industri kewalahan lantaran harga minyak dunia membumbung tinggi.

Dua minggu setelah perang dimulai Dewan Keamanan PBB mengadakan rapat dan mengeluarkan resolusi 339 serta gencatan senjata.

Secara total 2.688 tentara Israel tewas dan kurang lebih 7.000 orang cedera, 314 tentara Israel juga dijadikan tawanan perang dan puluhan lainnya hilang (17 di antaranya bahkan sampai tahun 2003 belum ditemukan).

Israel kehilangan 102 pesawat tempur dan kurang lebih 800 tank. Di sisi Mesir dan Suriah 35.000 tentara gugur dan lebih dari 15.000 cedera. 8300 tentara ditawan. Angkatan Udara Mesir kehilangan 235 pesawat tempur dan Suriah 135.

Israel lalu mengundurkan diri dari seluruh daerah Sinai setelah Mesir sepakat akan membuat bufferzones.

Setelah perang berakhir, banyak terjadi protes di Israel bahkan Perdana Menteri Golda Meir dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan dari Partai Buruh serta Panglima Angkatan Bersenjata Israel, David Eliazar, harus mengundurkan diri.

Negara-negara Pro-Arab mengklaim Mesir dan dunia Arab sebagai pemenang dengan alasan pada hari pertama perang, pasukan Arab berhasil menerobos garis pertahanan Israel.

Pada tahun 1978 di Camp David, Amerika Serikat, disepakati perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Camp David di mana Israel berjanji akan mengundurkan diri sampai ke perbatasan internasional dan di mana seluruh daerah Sinai menjadi daerah demilitarisasi dan diserahkan kepada Mesir.

(T.RS/S:Skynews, BBC, Al-Fagr)

leave a reply
Posting terakhir