Yordania Desak Israel Segera Bebaskan Warganya yang Ditahan Saat Memasuki Tepi Barat

Amman, SPNA - Pemerintah Yordania mendesak Israel untuk membebaskan dua warganya yang ditahan saat memasuki Tepi Barat yang ....

BY Mohamed AlhirtaniEdited Wed,09 Oct 2019,02:28 PM

Amman, SPNA - Pemerintah Yordania mendesak Israel untuk membebaskan dua warganya yang ditahan saat memasuki Tepi Barat yang diduduki, Haaretz melaporkan.

Menurut surat kabar itu, Kementerian Luar Negeri Yordania "menyampaikan keberatan resmi kepada duta besar Israel di Amman pada hari Minggu (06/10/2019)."

Kedua warga Yordania tersebut adalah Heba Abdel-Baqi Al-Labadi dan Abdurrahman Marei. Mereka dilaporkan ditangkap di jembatan Allenby dalam perjalanan menuju  Tepi Barat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania Sufian Qudah mengatakan bahwa Kedutaan Besar Yordania di Tel Aviv telah meminta agar keduanya dibebaskan.

Menurut Haaretz, "Abdel-Baqi, seorang warga negara Yordania yang juga memegang kartu identitas Palestina, diduga melakukan kontak dengan agen asing dan mendukung terorisme." Ia ditahan pada 20 Agustus dalam perjalanan untuk menghadiri pernikahan seorang kerabat di Jenin bersama ibu dan bibinya.

Pengacara Abdel-Baqi, Raslan Mahajna, mengatakan bahwa Baqi dicurigai bertemu dengan orang-orang yang diidentifikasi sebagai anggota Hizbullah selama perjalanan ke Beirut. Namun, pengacara itu mengatakan, Abdel-Baqi hanya bertemu sekali dengan seorang penyiar dari stasiun radio milik Hizbullah, ketika mengunjungi saudara perempuannya di Beirut.

"Ia diinterogasi secara intensif selama 35 hari, dan pada akhirnya, tidak ada dasar untuk mendakwanya. Ia kemudian ditahan dengan perintah penahanan administratif," kata Mahajna.

"Ia melakukan mogok makan selama 13 hari, karena dalam pandangannya, ini adalah penangkapan sewenang-wenang yang tidak dapat dibenarkan."

Keluarga Abdel-Baqi telah meminta pemerintah Yordania untuk campur tangan dalam kasusnya. Mereka menegaskan bahwa Baqi tidak pernah terlibat dalam "terorisme". Ia sebenarnya bekerja sebagai pegawai bank di Uni Emirat Arab sampai beberapa bulan  lalu.

Sementara itu, Marei ditangkap pada 2 September saat dalam perjalanan ke sebuah pernikahan di Nablus.

“Ibunya diberitahu bahwa ia akan ditahan untuk diinterogasi selama beberapa hari. Keluarganya belum diberi tahu alasan penahanannya, "kata Haaretz. Surat kabar itu menambahkan bahwa" kerabatnya mengatakan bahwa ia menderita kanker, dan mereka khawatir kondisi kesehatannya akan memburuk di penjara."

(T.RA/S: MEMO)

leave a reply