Perjuangan Palestina dari Medan Perang Hingga ke Meja Perundingan

Sejumlah anak-anak muda Palestina yang saat itu tersebar di negara-negara Arab menjadi garis depan gerakan Fatah dalam mengkampanyekan revolusi Palestina. Mereka juga memimpin perjuangan baik di bidang militer atau politik. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)  melalui kadernya menyatukan perjuangan untuk membebaskan Palestina.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Tue,22 Oct 2019,01:02 PM

Opini: Sami Sarhan

Diposting oleh Alhadath.com

Jalur Gaza, SPNA – Lebih dari satu abad, namun penderitaan rakyat Palestina terus berlanjut hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun dan dekade demi dekade.

Para konspirator baik dari Barat dan Timur, atau dari Arab dan non Arab semuanya bekerja demi Israel dengan menumbalkan Palestina yang sampai saat ini masih berdiri teguh meskipun terjajah.

Tahun 1948 yang dijuluki Tahun Tragedi Palestina tersebut menjadi saksi tindakan brutal Israel. 78% dari wilayah Palestina diduduki, 450 desa dihancurkan. Harta dan tanah mereka dirampas. Rakyat Palestina diusir dari tanah air.

Palestina hampir menghilang dari peta dimana Tepi Barat sempat bergabung dengan Yordania sementara Jalur Gaza tunduk di bawah pemerintahan Mesir. Saat perang 1967 melanda, Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza disusul Sinai dan DT Golan.   

Hal ini tidak membuat  generasi muda Palestina berdiam diri, mereka berupaya bangkit membebaskan Palestina dari jajahan.

Walau dengan kemampuan terbatas,  Palestina terus berjuang melawan penjajahan Israel sejak 1948.

Sejumlah anak-anak muda Palestina yang saat itu tersebar di negara-negara Arab menjadi garis depan gerakan Fatah dalam mengkampanyekan revolusi Palestina. Mereka juga memimpin perjuangan baik di bidang militer atau politik. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)  melalui kadernya menyatukan perjuangan untuk membebaskan Palestina.

Di bawah faksi Fatah, PLO berjuang baik dengan kekuatan militer atau politik agar Israel mengakui hak bangsa Palestina serta mendirikan negara merdeka di wilayah-wilayah yang diduduki pada 5 Juni 1976, dengan Yerusalem sebagai ibukotanya,  mengadopsi solusi dua negara sesuai dengan resolusi PBB  nomor 194.

Atas dasar ini, Kesepakatan Oslo ditandatangani tahun 1993, Palestina akhirnya memiliki peluang untuk menentukan nasib sendiri melalui solusi dua negara.

Sayangnya,  Israel berbalik kiblat,  akibat provokasi sayap kanan dan Yahudi ekstremis.

Mereka  mulai menentang perjanjian Oslo. Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dibunuh oleh kelompok ekstremis Yahudi pada 4 Novemver 1995 karena mendukung Perjanjian Oslo dan Solusi Dua negara.

Sementara Mantan Presiden Palestina,  Yasser Arafat dikepung lalu diracuni hingga akhirnya meninggal dunia. Sejumlah pihak menduga Arafat dibunuh agen Israel.

Gerakan sayap kanan Israel lalu tumbuh dan berkembang pesat, hal ini ditandai dengan kemenangan Benjamin Netanyahu dan Likud dalam kursi pemerintahan yang sampai saat ini menyangkal kesepakatan dengan PLO serta melanggar  Kesepakatan Oslo.

Netanyahu gencar membangun hunian Israel di Tepi Barat serta melakukan yahudisasi terhadap Al-Quds.

Rakyat Palestina ditangkap, rumah mereka digusur untuk pembangunan hunian ilegal. Tahanan Palestina juga teraniaya, hidup mereka sekarat di dalam penjara.

Malangnya, kebijakan Netanyahu justru mendapat restu dari  Donald Trump. Presiden AS ke 45 tersebut secara membabi buta mendukung Israel bahkan meskipun  bertentangan dengan kebijakan Pemerintah AS sendiri.

Trump sejak dulu telah mengumbar “Deal of Century” yang digadang akan menjadi solusi menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Sebelum isi perjanjian itu diungkap, Trump justru menghadiahkan Al-Quds, kota suci Islam sebagai ibu kota Israel lalu merelokasi kedutaan AS ke sana tahun 2018 silam.

Tidak hanya itu, AS juga menghentikan  bantuan kemanusiaan untuk UNRWA, bahkan mencoba menghapus lembaga yang telah membantu pengungsi Palestina selama beberapa dekade terakhir tersebut.

AS lalu menutup kedutaan Palestina di Washington dan  menghentikan bantuan untuk rumah sakit Palestina di Yerusalem. 

Disaat yang sama Trump justru mendukung pembangunan hunian ilegal di Tepi Barat dan Dt Golan. Salah satu permukiman tersebut bahkan dinamai “Trump Heights”.

Meskipun didukung AS, Netanyahu justru gagal membentuk pemerintahan sayap kanan baru. Netanyahu juga berhadapan dengan tuduhan suap dan penyelewengan kekuasaan.

Kegagalan Netanyahu membentuk pemerintahan sayap kanan menjadi langkah awal gagalnya Deal of Century. Kegagalan Netanyahu juga diprediksi akan menghilangkan dukungan terhadap Trump dalam pemilu mendatang di Amerika Serikat tahun depan.

Di lain pihak, Pemerintah Palestina, yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas, telah berupaya menggagalkan Deal of Century yang hanya menguntungkan Israel.

Dalam beberapa Minggu kedepan rakyat Palestina akan mengambil langkah menggagalkan Deal of Century dan menghapus hukum nasionalisme Israel melalui pemilu.

Rakyat Palestina akan memilih anggota Parlemen Arab di Knesset hingga mencapai 16 atau 17 kursi untuk menyuarakan suara Palestina.

Karena itu, Netanyahu diketahui berupaya mencegah rakyat Palestina untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Maka rakyat Palestina perlu mengetahui bahwa pertisipasi mereka dalam pemilu Israel mendatang menjadi jalan keluar menyingkirkan rasisme dari Palestina.

(T.RS/S:Alhadath)

leave a reply