70 Rakyat Sipil Palestina Luka-luka Dalam Demonstrasi Great March of Return di Gaza

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina, Jum’at (25/10/2019) staf medis telah menangani 77 korban luka-luka, dimana  31  dari terluka akibat peluru panas, dan 28 lainnya diserang peluru logam berlapis karet.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sat,26 Oct 2019,10:36 AM

Jalur Gaza, SPNA – Sebanyak 70 warga Palestina luka-luka dalam demonstrasi Great March of Return ke-80 di perbatasan timur Jalur Gaza.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina, Jum’at (25/10/2019) staf medis telah menangani 77 korban luka-luka, dimana  31  dari terluka akibat peluru panas, dan 28 lainnya diserang peluru logam berlapis karet.

Saksi mata melaporkan bahwa tentara Israel  yang bersembunyi di belakang pagar pemisah menembak warga sipil dengan peluru dan gas air mata.

Sementara itu, Lembaga Tinggi Pelaksana Great March of Return menyerukan rakyat Palestina agar melakukan demontrasi menuntut Israel agar menghapus blokade terhadap Gaza.

Pemimpin gerakan Jihad Islam, Khaled al-Batsh mengatakan bahwa Great March of Return adalah solusi untuk menghapus blokade Gaza.

“Kami akan terus berupaya  untuk mengembangkan dan memperluas aksi yang telah berlangsung sejak 30 Maret 2018 ini hingga ke Tepi Barat. Tujuannya adalah agar Israel menghentikan penggusuran rakyat Palestina.”

Sebelumnya, Wakil Menteri Pembangunan Sosial, Ghazi Hamad mengatakan bahwa Gaza adalah wilayah dengan populasi  termiskin di dunia.

Ekonomi di Gaza semakin memburuk sejak agresi Israel dalam intifada tahun 2000 silam hingga hari ini.  Blokade terhadap Gaza sejak 2006,  pembatasan jalur transportasi, dan agresi Israel berulang kali tahun 2008-2012-2014 ditambah perpecahan Palestina telah merusak seluruh lini kehidupan di Gaza.

Merujuk kepada laporan bahwa persentase pengangguran di Jalur Gaza mencapai 75% pada tahun 2019, dimana 70% populasi Jalur Gaza menghadapi rawan pangan.

Sementara itu, Pelapor Khusus PBB tentang HAM di wilayah Palestina, Michael Lynk mengatakan bahwa situasi Palestina semakin parah akibat pendudukan Israel dan aneksasi wilayah yang terus berlanjut, sementara dunia internasional hanya diam dan tidak mengambil tindakan tegas.”

“Penjajahan terhadap Palestina selama 52 tahun adalah yang terpanjang dalam sejarah dunia modern. PBB sudah berkali-kali mengeluarkan resolusi dan pernyataan mengkritik pendudukan terhadap Palestina yang sudah lama terjadi namun tidak  ada langkah nyata yang diambil,’’ujarnya  Dalam laporan terkait HAM di Palestina yang diajukan ke Majelis Umum PBB, Rabu malam (23/10/2019).

Awal 2018 lalu, Sekjen PBB, Antonio Guterres bahkan telah menegaskan bahwa Gaza yang memiliki populasi dua juta jiwa tersebut akan menjadi wilayah tak layak huni pada tahun 2020.

Sementara itu Profesor Hubungan Internasional Universitas Oxford, Avi Shlaim mengatakan bahwa Israel telah mengubah Jalur Gaza menjadi penjara terbesar di dunia. 

(T.RS/S:Youm7)

leave a reply
Posting terakhir