Haaretz: Israel Punya Kesempatan Langka Untuk Mewujudkan Perjanjian Damai Jangka Panjang Dengan Hamas

Dikutip Palsawa, (25/11/2019) Haaretz menambahkan para Jendera dan Staf Angkatan Darat IDF percaya bahwa Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza,  memiliki minat besar untuk mencapai kesepakatan jangka panjang.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,25 Nov 2019,11:44 AM

Tel Aviv, SPNA – Surat kabar Haaretz melaporkan bahwa pembunuhan tokoh terkemuka Saraya Al-Quds, Baha Abu Atha menciptakan peluang besar untuk mencapai perjanjian damai jangka panjang dengan Hamas.

Dikutip Palsawa, (25/11/2019) Haaretz menambahkan para Jendera dan Staf Angkatan Darat IDF percaya bahwa Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza,  memiliki minat besar untuk mencapai kesepakatan jangka panjang.

Para pemimpin militer Israel sangat antusias dengan opsi ini guna menjamin keamanan, namun keputusan akhir tetap berada di tubuh pemerintah.

Perang musim panas 2014, antara IDF dan Hamas  berakhir dengan kekalahan di tubuh Israel dimana kedua belah pihak melakukan gencatan senjata sekitar 3.5 tahun. Meskipun begitu kekhawatiran Netanyahu terhadap kritik internal mengenai nasib para tahanan Israel menghambat perjanjian damai dengan Gaza.

Disaat yang sama, ribuan warga Gaza sejak Maret 2018 sampai hari ini masih melakukan demonstrasi Great March of Return  setiap pekan di perbatasan Gaza. 300 warga Palestina gugur  dan  ribuan lainnya luka-luka.

Rakyat Gaza juga menembakkan balon dan layangan pembakar yang menghanguskan wilayah permukiman Israel di perbatasan Gaza.  Siuasi ini diperparah dengan perang 2 sampai 3 hari antara pejuang Gaza dan IDF.

Dalam perang terakhir, pasca pembunuhan Komandan Jihad Islam, Baha Abu Atha, Hamas dilaporkan tidak ikut berpartisipasi melawan Israel.

Menurut Haaretz,  Abu Atha bertanggung jawab atas 90% tembakan roket  ke wilayah Israel tahun lalu. Meninggalnya Abu Atta membuat sayap militer Jihad Islam semakin lemah. Hal ini yang menyebabkan terbunuhnya 20 aktivis Jihad Islam dalam serangan terakhir serta memaksa petinggi Gerakan Perlawanan Gaza tersebut menghentikan perang.

Jihad Islam membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Situasi  ini membuat mereka kembali ke posisi sebagai gerakan perjuangan sekunder setelah  Hamas, bukan justru menjadi superior seperti tahun lalu saat Abu Atha masih hidup.

Sebaliknya gerakan Hamas mengambil kebijakan yang sama sekali berbeda dan memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perang.

Haaretz menilai bahwa Hamas saat ini berupaya untuk menghindari konfrontasi militer dan fokus dengan tujuan ekonomi. Bagi IDF situasi ini sangat tepat untuk melakukan  perjanjian damai jangka panjang.

Komando IDF memperkirakan, perjanjian dapat diwujudkan dengan memberikan fasilitas tambahan terhadap Gaza,  seperti melaksanakan proyek infrastruktur besar, pengoperasian saluran listrik, pembangunan pabrik desalinasi air, serta membangun zona industri.

Staf Angkatan Darat IDF percaya bahwa buruh Gaza dapat bekerja di Israel dibawah pengawasan militer.

Untuk saat ini, IDF bersiap menghadapi kemungkinan perang yang diprediksi akan meletus di front utara melawan Iran dan sekutunya, meskipun ada upaya untuk mencapai kesepakatan.

(T.RS/S:Palsawa)

leave a reply
Posting terakhir