Keamanan Gaza Tangkap Mata-Mata Yang Membantu Operasi Pembunuhan Pemimpin Jihad Islami, Baha Abu Al-Atta

Menteri Dalam Negeri Gaza menyatakan telah menangkap beberapa orang yang diduga membantu Israel melakukan operasi pembunuhan terhadap pemimpin Saraya Al-Quds, Baha Abu al-Atta bulan lalu.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,30 Dec 2019,10:47 AM

Jalur Gaza, SPNA – Menteri Dalam Negeri Gaza menyatakan telah menangkap beberapa orang yang diduga membantu Israel melakukan operasi pembunuhan terhadap pemimpin Saraya Al-Quds, Baha Abu al-Atta bulan lalu.

 

Dilansir Rt Arabic, Minggu (29/12/2019), keamanan Gaza melakukan penyidikan terkait kasus pembunuhan pemimpin Jihad Islam tersebut dalam serangan udara Israel pertengahan November lalu.  Sejumlah orang ditangkap karena diduga mematai-matai Abu al-Atta, beberapa sebelum IDF melancarkan aksinya.

 

Pihak Keamanan Gaza menegaskan akan terus mendukung gerakan perlawanan Palestina serta akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

 

Baha Abu Al-Atha (42 tahun) adalah salah satu panglima Quds Brigades (sayap militer Jihad Islami) yang bertugas di wilayah utara Gaza.

 

Baha mulai dikenal dalam beberapa bulan terkahir saat Israel mengumumkan rencana untuk membunuhnya. Ia oleh pihak Israel disebutkan sebagai otak yang bertanggung jawab terhadap sejumlah serangan pejuang Gaza ke permukiman ilegal Yahudi.

 

Ia lahir pada tanggal 25 November 1977 di distrik Syajaiya, sebelah timur Kota Gaza. Ayah lima anak tersebut menjalani pedidikan dasar sebagaimana anak-anak Palestina lainnya. Memasuki jenjang kuliah ia megambil jurusan ilmu sosial di salah satu universitas di Palestina.

 

Sejak pertama kali bergabung dengan pasukan Jihad Islami pada tahun 1990, Ia menjalani karirnya dengan bagus hingga akhirnya diangkat menjadi Komandan wilayah utara.

 

Baha juga merupakan salah satu Dewan Militer Jihad Islami yang berpengaruh dan ikut terlibat dalam beberapa serangan ke Israel.

 

Israel menyebutnya sebagai ‘inti dari permasalahan yang tidak dapat dibendung oleh siapapun’. Langkah dan pergerakannya juga sulit diprediksikan.

 

Pasca serangan rudal Israel yang menewaskannya November lalu, Israel mengumumkan bahwa Baha merupakan otak dari sejumlah serangan pejuang Gaza ke permukiman Israel dalam beberapa bulan terakhir.

 

Surat kabar Israel, The Jerusalem Post, mengeluarkan sebuah laporan yang menyebutkan Baha sebagai salah satu tokoh paling berbahaya untuk Israel. Dua tokoh lainnya yang disandingkan dengannya dalam laporan tersebut adalah Hassan Narullah (Sekjen Hizbullah Lebanon) dan Qasem Soleimani (Mayor Jenderal Tentara Pengawal Revolusi Iran).

 

Ia juga termasuk salah satu tokoh yang masuk dalam daftar terorisme Amerika Serikat. Israel mengklaim bahwa serangan roket ke permukiman Sderot pada 25 Agustus lalu di rencanakan oleh Baha. Saat itu Benjamin Netanyahu yang sedang menyampaikan kampanyenya terpaksa lari meninggalkan panggung.

 

Sebelum meninggal, Israel sudah beberapa kali berusaha membunuhnya namun Baha berhasil menyelamatkan diri. Ia sempat luka-luka pada tahun 2012 dan kembali selamat dalam agresi militer Israel ke Gaza tahun 2014.

 

Kendati demikian, alasan di balik pembunuhan pemimpin Jihad Islami ini tidak sepenuhnya benar. Beberapa tokoh politik di pemerintahan Israel sendiri mengatakan bahwa serangan Israel ke Gaza pada hari Selasa lalu sarat akan unsur politik

 

Netanyahu dikabarkan berusaha menyelamatkan karir politiknya setelah gagal dua kali dalam membentuk koalisi pemerintahan Israel. Ia juga sedang berurusan dengan pihak pengadilan akibat kasus korupsi yang membelenggunya.

 

Meski Jihad Islami sempat mengatakan akan melakukan balasan ‘tanpa batas’, namun Mesir dan PBB berhasil membujuk mereka untuk kembali menandatangani perjanjian damai dengan Israel.

 

(T.RS/S:RtArabic)

leave a reply
Posting terakhir