The Independent: Gaza Sudah Lama Tak Layak Huni

Lima tahun lalu, PBB  telah meramalkan bahwa jika Gaza tak kunjung berubah, wilayah ini akan menjadi tak layak huni tahun 2020. PBB sudah berkali-kali mengeluarkan peringatan ini, dan batas waktunya sudah tiba.  Kenyataannya, Gaza telah lama menjadi wilayah tak layak huni. Gaza bukan bom waktu, namun ledakan yang bergerak lambat.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Tue,31 Dec 2019,02:22 PM

Jalur Gaza, SPNA  - The Independent  menyatakan bahwa Jalur Gaza sudah lama menjadi wilayah tak layak huni.  Koresponden Surat kabar Inggris  tersebut, Bel Trew dalam artikelnya yang dilansir Senin (30/12/2019) menjelaskan,  hanya satu jam berkendara menyusuri pantai dari lokasi wisata di Tel Aviv,  kita akan menemukan wilayah tercemar bernama Gaza,  di mana dua juta orang telah terkurung di dalamnya selama lebih dari satu dekade.

Perjalanan ke Gaza sangat miris, di balik dinding pemisah Israel terdapat  bar, sushi, mal, pantai dan jalan raya, sementara di sisi satunya anda justru menemukan  jalan berdebu  mengilingi wilayah yang hancur dan diawasi menara pengawas Israel.

 

Gaza Sudah Lama Tak Layak Huni

 

Lima tahun lalu, PBB  telah meramalkan bahwa jika Gaza tak kunjung berubah, wilayah ini akan menjadi tak layak huni tahun 2020. PBB sudah berkali-kali mengeluarkan peringatan ini, dan batas waktunya sudah tiba.  Kenyataannya, Gaza telah lama menjadi wilayah tak layak huni. Gaza bukan bom waktu, namun ledakan yang bergerak lambat.

Israel memblokade Gaza sejak   2007, tepatnya setelah gerakan Hamas yang anti Israel memenangkan pemilu. Selama satu dekade terakhir, Gerakan Perlawanan tersebut bersama sekutunya seperti Jihad Islam Palestina, terlibat dalam 3 peperangan dengan Israel. Situasi ini membuat Israel membenarkan untuk terus melanjutkan blokade terhadap Gaza. Hal ini memperparah situasi. 

Ribuan warga Palestina terpaksa melakukan demonstrasi di perbatasan Gaza sejak Maret 2018 sampai hari ini setiap pekan. Mereka menuntut agar Israel mengembalikan pengungsi  ke tanah air yang direbut oleh Israel.  

300 nyawa melayang dalam aksi demo tersebut sementara 350.000 lainnya luka-luka seperti dilaporkan WHO.  150 korban luka-luka menderita cacat, sebagian lainnya dirujuk di  rujuk ke rumah sakit di luar Gaza, sayangnya Israel hanya mengizinkan 60% pasien untuk berobat ke luar dari Gaza.

 

Pasien Gaza Hadapi Krisis Perlatan Medis dan Obat-obatan

 

Trew menambahkan bahwa 9000 pasien Gaza menunggu untuk dioperasi, namun Lembaga Kesehatan Gaza jmenghadapi krisis pasokan perlengkapan medis dan obat-obatan.

 

Pencemaran Air  

 

Berdasarkan laporan sejumlah lembaga seperti Otoritas Perusahaan Air Minum Palestina, WHO, sekitar 97% air di Gaza tak dapat diminum.  Disaat yang sama persediaan air tanah yang menjadi sumber satu-satunya di Gaza hampir habis.

Gaza sudah membangun 3 pusat desalinasi air laut, sayangnya tak cukup. Pemerintah lalu berencana membangun stasiun yang lebih besar, namun proyek tersebut kandas karena tak memiliki sumber daya yang cukup.

Berdasarkan laporan Pemerintah Palestina, jika Gaza mampu memproduksi air bersih, saluran dan tempat penampungan air di Gaza masih dipenuhi kuman penyakit. 

Tahun lalu, suplai listrik ke Jalur Gaza lebih baik, namun ada masalah yang lebih besar, dimana pabrik pengolahan limbah tidak bekerja secara optimal akibat kurangnya pasokan listrik. 

Hal ini mengakibatkan setengah dari pantai Gaza tercemar dan tak dapat digunakan akibat limbah yang dibuang ke laut.

 

Sebagian Besar Warga Gaza Pengangguran

 

70% warga Gaza adalah  pengangguran, yang hidup bergantung dengan bantuan. Ajaibnya, bantuan kemanusiaan dari berbagai organisasi terus datang ke Gaza.

“Salah satu pejabat WHO mengatakan kepada saya, satu-satunya faktor yang mencegah tersebarnya wabah di Gaza adalah karena Gaza adalah wilayah paling banyak vaksinasinya di bumi. Seandainya sedikit saja warga Gaza terserang kolera misalnya, maka satu persatu warga akan meninggal,” tulisnya.

“Perjuangan rakyat Gaza yang menakjubkan untuk bertahan terhadap situasi yang mengerikan ini tidak boleh dijadikan  bukti bahwa Gaza layak tinggal. Gaza adalah wilayah tak layak huni dan solusi harus segera ditemukan, ‘’ tutupnya.

 

Sebelumnya, Komite Rakyat Anti Blokade Israel mengumumkan bahwa ekonomi Gaza 2019 merupakan yang paling anjlok sejak pertama kali Israel memblokade salah satu wilayah Palestina.

 

Blokade Israel membuat pelaku usaha tidak dapat menjalankan rumah prudoksi akibat terbatasnya pasokan barang mentah dari luar Gaza. Dengan alasan keamanan, Israel yang berkuasa menjaga gerbang penyeberangan berhak membatasi dan mengawasi setiap barang yang masuk.

 

Al-Khudhari menyampaikan bahwa saat ini terdapat 2500 warga Gaza yang berstatus sebagai pengangguran. Sedangkan angka kemiskinan bahkan mencapai 85 persen.

 

Menurut data yang diperoleh pihaknya, hanya 50 persen dari semua rumah usaha yang masih mampu bertahan dari himpitan blokade. Ia mengajak seluruh kekuatan internasional untuk mendesak Israel agar segera menghentikan blokadenya.

 

Blokade Israel pertamakali berlangsung pada tahun 2007, dan berhasil mejadikan Gaza sebagai salah satu penjara terbesar di dunia, akibat terisolasi dari dunia luar. Perjalanan dibatasi hanya untuk keperluan pengobatan dan kondisi urgen lainnya.

 

(T.RS/S:Palsawa/TheIndependent)

leave a reply