Pembunuhan, Penyerangan, Penggusuran dan Yahudisasi: 2019 Menjadi Yang Terberat Bagi Warga Al-Quds Sejak Pendudukan Inggris

Tahun 2019 menjadi tahun yang berat bagi kota suci umat Islam, Al-Quds yang diduduki. Di tahun ini Israel melakukan berbagai macam pelanggaran hukum dan tindak aniaya terhadap warga Palestina dan situs suci Islam

BY Mohamed AlhirtaniEdited Wed,01 Jan 2020,10:51 AM

Al-Quds, SPNA – Tahun 2019 menjadi tahun yang berat bagi kota suci umat Islam, Al-Quds yang diduduki. Di tahun ini Israel melakukan berbagai macam pelanggaran hukum dan tindak aniaya terhadap warga Palestina dan situs suci Islam.

Warga Palestina tidak pernah lupa dengan 3 tragedi besar di Al-Quds tahun 2019, terutama serangan pasukan Israel terhadap umat Islam saat Idul Adha di Masjid Al-Aqsa yang berujung kepada bentrok panas.

Saat itu pasukan penjaga perbatasan Israel dan ribuan Yahudi ekstremis melakukan serbuan besar-besar ke Al-Aqsa saat umat Islam sedang melaksanakan sholat eid.

Tragedi  kedua, adalah penggusuran rumah warga Palestina di Wadi el-Homs, selatan Al-Quds. Salah satu gedung warga Palestina hancur rata dengan tanah  akibat ledakan bom, ratusan warga terpaksa kehilangan tempat tinggal dan menjadi gelandangan.

Tahun 2019 merupakan tahun terberat bagi warga Palestina sejak 1967 dimana mereka menghadapi operasi pembersihan etnis, pembunuhan serta pengggusuran.

Israel juga menangkap gubernur Al-Quds Adnan Ghaits dan membatasi kebebasan pers dengan melarang stasiun TV Palestina beroperasi di kota suci tersebut.

Direktur Pusat Informasi  Ain al-Hilweh di Al-Quds, Jawwad Shiam, mengatakan kepada surat kabar resmi Palestina Wafanews, (31/12/2019) bahwa selama tahun 2019, Ain Hilweh mencatat 7 penembakan terhadap warga Palestina di Al-Quds, akibatnya dua remaja merenggang nyawa.

Shiam menambahkan, pasukan pendudukan Israel juga menangkap 1950 warga, 500 korban adalah anak-anak dan remaja dibawah umur.

Lebih dari itu, Israel menggusur 170 bangunan Palestina. Akibatnya 400 warga sipil kehilangan tempat tinggal.

Yahudisasi Terhadap Al-Aqsa

Di tahun 2019, pemerintah Israel melakukan kampanye yahudisasi besar-besaran terhadap kota suci Al-Quds dengan menargetkan sektor pendidikan dan penggusuran warga sipil.

Pengacara Palestina, Khalid Zabarqeh mengatakan bahwa tahun 2019 merupakan tahun yang paling berat sejak penddukan Inggris. Israel berani secara langsung melakukan penyerangan terhadap warga Al-Quds, pengusuran serta pencaplokan lahan dan properti warga Palestina ditambah penggalian bawah tanah dibawah Masjid Al-Aqsa.

Langkah – langkah Tel Aviv menunjukkan bahwa Israel berupaya menguasai seluruh sektor di Al-Quds untuk kemudian mengubah kota suci tersebut menjadi kota Yahudi.

Hal ini terlihat dari perubahan nama jalan dan permukiman  warga Palestina, dari nama Islam menjadi Ibrani.

Israel berupaya merubah corak Masjid Al-Aqsa serta menutup  sejumlah yayasan pemerintah Palestina di Al-Quds, seperti Biro Pendidikan Palestina untuk mengubah kiblat pendidikan Palestina.

Permukiman ilegal

Di tahun 2019, pemerintah Israel mendeklarasikan akan membangun sejumlah permukiman ilegal. Di awal tahun zionis mengumumkan akan membangun 459 unit perumahan Yahudi  di pemukiman Ma’ale Adumim, sebelah tenggara Al-Quds.

Israel juga menyatakan akan membangun kereta gantung untuk mengukuhkan otoritas Israel terhadap Al-Quds serta melaksanakan sejumlah proyek yahudisasi dengan anggaran senilai  55 juta Dolar AS.

Dengan dukungan AS, Israel juga meresmikan Pilgrim Road tunnel di bawah Masjid Al-Aqsa.  Acara tersebut dihadiri Dubes AS untuk Israel David Friedman dan Delegasi AS untuk Timur Tengah Jason Greenblatt.

Di Selatan Al-Aqsa, Mahkamah Israel menyetujui penggusuran 60 rumah warga Palestina di Wadi Yasul di Silwan. Akibatnya 500 warga terancam menjadi tunawisma.

Bulan Ramadhan lalu, pasukan IDF menyerang warga Palestina yang melakukan I’tikaf terhadap Masjid Al-Aqsa. IDF menerobos masuk ke Al-Aqsa dan mengusir warga yang sedang beribadah didalam Masjid.

Di tahun yang sama Mahkamah Israel mengubah bangunan sejarah di jalan Yaffa menjadi permukiman Israel, setelah sengketa selama 14 tahun, bersamaan dengan keputusan pembangunan 2000 unit permukiman ilegal baru di Beit Iksa, Al-Quds bagian barat.

Khalil Al-Tafaji, ahil pemetaan Palestina mengatakan bahwa  operasi yahudisasi Israel terhadap Al-Quds dilakukan di beberapa bidang, salah satunya adalah pembangunan terowongan bawah tanah. Israel juga membangun sejumlah infrastruktur untuk menyatukan antara permukiman Israel seperti yang terjadi di sekitar Ma’ale Adumin.

Yahudisasi terhadap Al-Quds yang membabi buta dilakukan Israel setelah mendapatkan restu dari Gedung Putih, dimana Presiden AS Donald Trump Desember 2017 lalu mendeklarasikan bahwa Al-Quds adalah Ibukota Israel. Kebijakan Trump tersebut memberikan lampu hijau bagi Israel untuk merebut Al-Quds dan mengubahnya menjadi kota Yahudi.

(T.RS/S:WafaNews)

leave a reply
Posting terakhir