Hamas Bangun Fasilitas Isolasi Pasien Corona di Gaza

Meskipun belum ada kasus virus korona di wilayah kantong pantai ini, pihak berwenang, selama sepekan terakhir, mulai mempersiapkan kemungkinan bahwa virus itu dapat mencapai wilayahnya.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Thu,19 Mar 2020,02:52 PM

Gaza

Gaza, SPNA - Fasilitas pemeriksaan medis dan kemungkinan isolasi bagi mereka yang memasuki Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah dan Erez sedang dibangun oleh pemerintah de facto yang dijalankan oleh Hamas, Times of Israel melaporkan.

Meskipun belum ada kasus virus korona di wilayah kantong pantai ini, pihak berwenang, selama sepekan terakhir, mulai mempersiapkan kemungkinan bahwa virus itu dapat mencapai wilayahnya. Menurut The Jerusalem Post, dua set fasilitas akan dibangun di utara dan selatan Jalur Gaza, dengan total 500 kamar untuk individu yang membutuhkan karantina.

Direktur departemen kesehatan dan lingkungan Kota Rafah, Mohammed Mohammed, menjelaskan bahwa fasilitas di dekat Rafah akan dibangun di tanah di sebelah barat kota. Ini akan dikoordinasikan oleh pemerintah kota, komite pemantauan pemerintah, layanan air setempat dan perusahaan listrik.

Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam di Jalur Gaza, Yahya Al-Sinwar, dilaporkan mengawasi pekerjaan konstruksi secara pribadi di kedua wilayah. Dia, tampaknya, telah ditemani oleh sejumlah pejabat senior Hamas dalam kunjungannya ke lokasi.

Para pejabat kesehatan Palestina telah menyatakan keprihatinannya bahwa jika dan ketika kasus virus corona terdeteksi di Jalur Gaza, rumah sakit-rumah sakit lokal tidak akan mampu mengatasi sejumlah besar pasien yang terinfeksi.

"Jalur Gaza adalah daerah padat penduduk, tempat virus itu dapat menyebar dengan sangat cepat," kata seorang pejabat. “Sistem kesehatan di Jalur Gaza tidak memiliki alat dan staf untuk menangani lusinan kasus yang terinfeksi. Kami memiliki 11 rumah sakit besar dan puluhan klinik, tetapi mereka tidak akan dapat menerima sejumlah besar pasien. Itu bisa mengakibatkan krisis kemanusiaan yang nyata dan belum pernah terjadi sebelumnya.”

Sebagian besar kasus virus corona di wilayah Palestina yang diduduki telah dicatat di kota Betlehem di Tepi Barat yang diduduki.

(T.RA/S: MEMO)

leave a reply