اعلان 1

Sejumlah anggota Knesset memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa

Al-Quds, SPNA - Sejumlah anggota sayap kanan parlemen Israel, Knesset, memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah pengawalan militer Israel, Selasa (29/08/2017).

Edited Aug 30,2017 09:54

Al-Quds, SPNA - Sejumlah anggota sayap kanan parlemen Israel, Knesset, memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah pengawalan militer Israel, Selasa (29/08/2017). Kinjungan tersebut terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencabut larangan kunjungan yang diberlakukan kepada Anggota Knesset (MK) ke situs suci tersebut. Larangan yang diberlakukan pada bulan Oktober 2015 bertujuan untuk meredakan ketegangan di tengah meningkatnya tensi politik di wilayah Palestina yang diduduki dan Israel.

Untuk sementara waktu, Netanyahu telah memutuskan mencabut larangan memasuki kompleks itu selama lima hari pada akhir Juli lalu. Hal itu menimbulkan reaksi dari orang-orang Palestina dan Muslim di parlemen Knesset. Namun perintah tersebut dibatalkan menyusul ketegangan di kompleks suci itu yang berlangsung selama selama 13 hari.

Pasukan Israel sekarang diperkirakan akan menilai apakah akan mengizinkan anggota parlemen secara permanen untuk mengunjungi kompleks tersebut.

Polisi Israel dan petugas unit khusus dikerahkan dalam jumlah besar di tempat suci itu. Sementara sekelompok pemukim dan anggota Knesset membanjiri Gerbang Maroko sebagai bagian dari kunjungan percobaan yang berlangsung selama sehari tersebut.

Harian Israel, The Jerusalem Post mengutip ungkapan salah satu anggota parlemen Arab-Muslim di Knesset, Ahmad Tibi, yang mengatakan bahwa anggota parlemen Palestina tidak akan pergi ke masjid "dalam rangka provokasi dan di bawah kondisi yang ditetapkan oleh Netanyahu serta polisi Israel."

“MK Arab bisa memasuki kompleks tersebut kapan pun mereka mau dan bukan pada saat Netanyahu menginginkannya. Begitulah keadaannya dulu," kata Tibi. "Saat orang-orang Arab MK memasuki masjid mereka, para pengunjuk rasa anggota sayap kanan MK juga  masuk ke masjid tersebut dengan dukungan pemerintah dan polisi Israel. Mereka berusaha mengubah status quo dan diizinkan beribadah di kawasan Masjid. Dunia pun bisa melihat siapa yang menghasut."

Menanggapi keputusan Netanyahu, direktur kompleks Masjid Al-Aqsa, Sheikh Omar al-Kiswani, bereaksi dengan mengatakan bahwa perdana menteri Israel "mencoba menunjukkan bahwa ia menguasai Masjid Al-Aqsa." Namun, fakta di lapangan menunjukkan "meski dengan pistol dan pendudukan, mereka tetap tidak memiliki hak untuk mengendalikan Al-Aqsa," katanya.

Salah satu anggota partai Likud di MK yang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa adalah Yehuda Glick, salah satu pendukung utama kunjungan Yahudi ke kompleks suci tersebut, dan Shuli Moalem-Refaeli, anggota MK dari partai Rumah Yahudi.

Adapun anggota parlemen yang mewakili partai yang dipimpin oleh warga Palestina Israel mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengunjungi kompleks suci itu.

Dia menambahkan bahwa Masjid Al-Aqsa "milik orang Arab Palestina dan Muslim" dan menegaskan bahwa situs tersebut berada di bawah kontrol Yordania. "Serangan ini sangat provokatif bagi semua umat Islam, dan dipandang sebagai eskalasi Israel untuk mengganggu umat Islam pada malam Idul Adha," katanya, merujuk pada liburan bagi kaum Muslimin yang dimulai pada hari Kamis.

Firas al-Dibs, juru bicara Wakaf Islam yang mengelola situs suci tersebut, mengatakan bahwa keputusan untuk mengizinkan anggota Knesset Israel mengakses masjid tersebut "tidak dapat diterima," dan menunjukkan bahwa "entitas sayap kanan ekstremis berada di kontrol pemerintah pendudukan Israel. "

Pejabat Waqf Sheikh Raed Dana mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menggagalkan semua rencana Israel terhadap Masjid  Al-Aqsa adalah "kaum muslimin harus mengunjungi masjid dan menghabiskan banyak waktu di sana agar masjid tetap padat."

Pemimpin Fatah yang terkenal di distrik Yerusalem, Hatim Abd al-Qadir, mengatakan bahwa baik pemukim Israel maupun anggota Knesset "tidak diterima" untuk mengunjungi Al-Aqsa. "Kunjungan kedua kelompok tersebut memiliki tujuan yang sama, namun membiarkan anggota Knesset untuk menyerang Al-Aqsa selama masa-masa ketegangan ini akan memiliki dampak yang berbahaya."

Kepada Ma’an News, sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa berdasarkan keputusan tersebut, maka MK Yahudi harus mengajukan permohonan untuk mengunjungi kompleks tersebut 24 jam sebelumnya. Permohonan itu harus disetujui oleh komandan keamanan Knesset dan kepala polisi Israel di Yerusalem. Jika permohonannya disetujui, MK Yahudi bisa masuk kompleks melalui gerbang Maroko.

Sementara itu, MK Palestina akan diizinkan memasuki kompleks tersebut melalui Gerbang Lions, 30 menit setelah MK Yahudi menyelesaikan kunjungan mereka. Pidato politik tidak diperbolehkan selama kunjungan.

Media Israel memberitakan bhwa sekelompok aktivis perdamaian sayap kiri Israel berkumpul di pintu masuk Gerbang Moroccan untuk memprotes kunjungan MK tersebut, sembari mengatakan, "Orang-orang gila turun dari gunung."

Anggota MK, Laura Wharton dikutip oleh The Jerusalem Post mengatakan bahwa, "Jika Glick mengatakan bahwa ia ingin pergi ke lokasi dan berdoa untuk alasan pribadi, maka ia bertanggung jawab atas dampak dari apa yang dia lakukan. "

"Apa yang ia lakukan membahayakan masyarakat umum," tambahnya.

Sebelum menjadi anggota Knesset, Glick telah biasa dibawa ke kompleks Masjid Al-Aqsa oleh orang-orang ultra-nasionalis Israel untuk melakukan ritual dan doa di lokasi tersebut, sebuah praktik yang oleh orang-orang Palestina anggap sebagai usaha untuk menantang perjanjian internasional yang telah berlangsung lama mengenai situs suci tersebut.

Pad saat kunjungan Yahudi berlangsung dalam kompleks, maka ritual ibadah non-Muslim dilarang sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani antara Israel dan pemerintah Yordania setelah pendudukan Israel di Yerusalem Timur (Al-Quds) pada tahun 1967. Namun meskipun ada kesepakatan ini, pihak berwenang Israel secara teratur mengizinkan pengunjung Yahudi untuk memasuki lokasi tersebut dan melakukan ibadah keagamaan dalam pengawalan pihak keamanan Israel.

Banyak kelompok Palestina dan hak asasi manusia mengkhawatirkan kelompok sayap kanan yang semakin berpengaruh pada pemerintahan Netanyahu. Kelompok ini diketahui sangat gencar menyerukan penghancuran Masjid Al-Aqsa dan membuka jalan dibangunnya kuil Yahudi. (T.RA/S: Ma’an News)

leave a reply