Aktivis Palestina Berdemontrasi di Penjara Israel Tuntut Pembebasan Anhar Al-Deek

Berdasarkan laporan Komite Tahanan dan Mantan Narapidana Palestina, Anhwa Al-Deek menderita depresi kehamilan (bipolar), sehingga sangat membutuhkan perhatian dan perawatan medis khusus, yang tidak tersedia di penjara pendudukan Israel.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,30 Aug 2021,11:13 AM

Yerusalem, SPNA – Puluhan aktivis sosial dan aktivis perempuan Palestina melakukan aksi demontrasi, pada Minggu (29/08/2021), sebagai bentuk solidaritas terhadap Anhar Al-Deek di depan Penjara Damoun. Para demontran menuntut pembebasan Anhar Al-Deek, yang sedang hamil sembilan bulan.

Demontran meneriakkan slogan yang mendukung tawanan Al-Deek dan semua tahanan wanita yang ditahan di Penjara Damoun, serta menuntut pembebasan mereka segera.

Sejumlah orator dalam demontrasi tersebut menekankan pentingnya organisasi hak asasi manusia untuk terlibat dalam mempercepat pembebasan Anhar Al-Deek sebelum waktu kelahiran bayinya, yang dapat terjadi setiap saat.

Sejumlah orator menekankan bahwa hukum humaniter mengharuskan Anhar Al-Deek memperoleh haknya, dapat melahirkan bayi tanpa tekanan dan bersama keluarganya, dan memperoleh jaminan kondisi kesehatan yang baik, jauh dari berbagai pembatasan dan tekanan sipir penjara.

Pasukan pendudukan menangkap Anhar, dari kota Kafr Nima, sebelah barat Ramallah, Maret lalu, Ketika ia sedang hamil empat bulan. Ia dituduh mencoba melakukan serangan penikaman di sebuah pemukiman Israel yang sedang dibangun di kawasan tersebut.

Saat ini, kehamilannya sudah memasuki bulan kesembilan, sehingga nyeri persalinan bisa datang setiap saat.

Berdasarkan laporan Komite Tahanan dan Mantan Narapidana Palestina, Anhwa Al-Deek menderita depresi kehamilan (bipolar), sehingga sangat membutuhkan perhatian dan perawatan medis khusus, yang tidak tersedia di penjara pendudukan Israel.

Saat ini, otoritas pendudukan Israel menahan 11 ibu Palestina dari total 40 tahanan wanita yang ditahan di Penjara Damoon.

Narapidana perempuan ini mengalami siksaan fisik dan psikis karena tidak diperbolehkan untuk menemui anak-anak dan keluarga mereka kecuali hanya beberapa menit. Sejumlah narapidana perempuan tersebut telah bertahun-tahun tidak melihat anak-anak mereka, ditambah dengan kebijakan pengabaian medis yang dipraktekkan pendudukan Israel terhadap mereka, seperti yang dialami Anhar Al-Deek.

Sejumlah kesaksian yang dicatat Komite Tahanan dan Mantan Narapidana Palestina, menunjukkan bahwa narapidana perempuan yang hamil belum mendapat pelayanan dan akses kesehatan yang baik, padahal mereka sangat membutuhkan perhatian khusus, pemeriksaan rutin, dan perawatan khusus untuk menindaklanjuti kondisi kesehatan dan untuk membebaskan mereka dari beban kehamilan saat mendekati waktu persalinan.

“Wanita hamil dibawa ke rumah sakit dengan kondisi kedua tangan dan kakinya diborgol. Ia dikelilingi sejumlah tentara wanita dan masih diborgol saat sudah berada di ranjang rumah sakit, dengan dalih demi menjaga keamanan,” kata Komite Tahanan dan Mantan Narapida Palestina.

Pendudukan Israel hanya melonggarkan sedikit pembatasan beberapa menit sebelum kelahiran, tanpa mengizinkan salah satu anggota keluarga pun untuk menghadiri jam kelahiran, dan untuk memeriksa ibu dan bayi yang baru lahir. Ini sangat berdampak negatif terhadap kondisi psikologi perempuan.

(T.FJ/S: Palinfo)

leave a reply
Posting terakhir