Gaza-Israel siap perang terbuka, 6 warga Gaza dan 3 warga Israel tewas

Senin (11/11/2018), Gaza kembali membara. Sekitar pukul 11 malam waktu setempat, sebuah mobil asing menerobos kawat pagar pembatas, memasuki Jalur Gaza melalui Khan Yunis, Gaza Selatan.

BY adminEdited Wed,14 Nov 2018,04:29 AM

SPNA - Gaza

Gaza, SPNA – Jalur Gaza, sebuah kota kecil dengan luas wilayah 367 km persegi dan dihuni oleh dua juta jiwa penduduk. Dengan kondisi ini menjadikan Gaza menduduki peringkat pertama sebagai kota terpadat didunia, sebagaimana dilaporkan World Health Organization (WHO). Gaza tumbuh menjadi ‘penjara terbesar di dunia’ akibat blokade atau pengepungan yang diberlakukan Israel, yang telah berlangsung selama 12 tahun, sejak diberlakukannya pada tahun 2006.

Blokade dan kesenjangan yang abai pada kemanusiaan, telah mengukung Gaza terisolir dari dunia luar. Lumpuhnya perekonomian pun tak terelakkan sebab semua pintu perlintasan tertutup. Bantuan kemanusiaan dan obat-obatan sulit memasuki Gaza, kalaupun bisa, harus melalui prosedur perizinan yang super ketat.

Belasan tahun dalam pengepungan, menjadikan warga Gaza telah terbiasa dengan pembunuhan, pengusiran dan penggusuran oleh pasukan pendudukan Israel atas mereka. Hal yang sama juga dirasakan oleh rakyat Palestina yang bermukim di Al-Quds dan Tepi Barat. Masa depan mereka seolah tak terarah, namun mereka tak patah semangat untuk terus berjuang. Aksi damai menjadi salah satu langkah yang mereka tempuh untuk meneriakkan ketertindasan dan segala penderitaan yang mereka alami kepada dunia.

Setiap hari Jumat, Timur kota Gaza dan pesisir pantai Gaza, selalu menyajikan aksi-aksi heroik rakyat Palestina dalam aksi Great March of Return, yang dimulai sejak 30 Maret lalu. Dalam aksi ini, rakyat Palestina di Gaza menuntut hak untuk kembaki ke tanah mereka yang saat ini dikuasi oleh Israel. Selain itu, rakyat Gaza menuntut agar Israel membuka pintu perlintasan dan mengakhiri blokade terhadap daerah mereka, agar warga sipil bisa bernafas lega dan terbebas dari segala ketertindasan dari pihak Israel. Meski hingga kini, harapan itu tak kunjung terwujud.

Senin (11/11/2018), Gaza kembali membara. Sekitar pukul 11 malam waktu setempat, sebuah mobil asing menerobos kawat pagar pembatas, memasuki Jalur Gaza melalui Khan Yunis, Gaza Selatan. Selatan Gaza merupakan daerah yang sangat dekat dengan pagar pembatas Gaza-Israel. Di sini, mobil asing tersebut dihentikan oleh beberapa anggota brigade Al-Qassam –sayap militer gerakan Hamas-  yang sedang berjaga malam (Murobitin). Saat dihentikan, sejumlah orang yang berada dalam mobil serta merta melepaskan tembakan ke arah dua Murobitin yang berdiri sangat dekat dengan mobil tersebut.

Kedua Murobitin pun seketika gugur dan menjadi awal bentrokan berdarah skala besar di tempat itu. Lalu muncul pasukan bantuan militer Israel melalui udara yang melepaskan rudal yang berlanjut dengan aksi saling balas dari kedua belah pihak.

Hal yang sama terjadi semalam, di mana aksi saling tembak sengit terjadi antara militer Israel dan para Murobitin, yang menyebabkan gugurnya tujuh Murobitin dan seorang prajurit Israel (komandan regu berpangkat Mayor Lapangan). Pasukan Israel berhasil dipukul mundur hingga ke perlintasan Gaza dan Israel. Satu unit pesawat heli kopter milik Israel yang hendak mengevakuasi korban berhasil ditembak jatuh oleh Murobitin.

Bermula dari misi penyusupan yang dilakukan oleh pasukan Israel hingga berbuntut perang terbuka antara militer Israel dan pejuang Palestina di Gaza. Membalas aksi pasukan Israel tersebut, para pejuang Gaza mengirimkan 11 roket jenis kornet ke wilayah Israel.

Senin malam terus terjadi eskalasi ketegangan. Kebisingan terdengar dari suara pesawat dan dentuman rudal serta bom, yang dilepaskan baik dari Gaza maupun Israel. Tidak hanya kompleks militer, namun rumah dan permukiman warga sipil pun menjadi sasaran serangan Israel. Seolah Israel ingin mengirim pesan agar warga Gaza segera meninggalkan rumah-rumah mereka.

Melalui juru bicaranya, Dr.Ashraf Al-Qedra, Kementerian Palestina di Gaza melaporkan bahwa sejak 12 sampai 13 November 2018, tercatat 13 warga Gaza gugur dan 30 orang lainnya terluka. Adapun bangunan, tercatat delapan gedung dan rumah warga sipil rata dengan tanah, salah satunya adalah Stasiun Al Aqsa TV di Gaza.

Dari pihak Israel tercatat, tiga pemukim Yahudi tewas dan tak kurang dari 12 rumah dan gedung di Israel hancur diterpa rudal dari Gaza.

Melalui juru bicaranya, militer Israel melaporkan, hingga kini tak kurang dari 400 rudal dan roket jenis kornet diluncurkan dari Gaza dan jatuh ke permukiman Yahdui, sejak berita ini dirilis situasi Gaza masih mencekam.

(AO/S: SPNA)

leave a reply