Film Karya Sutradara Palestina Farah Nabulsi Masuk Nominasi Oscar

“The Present” adalah kisah sederhana dan menarik tentang seorang buruh bernama Yusuf (diperankan oleh Saleh Bakri), yang suatu hari berangkat bersama putrinya yang masih kecil, Yasmine (diperankan oleh Mariam Kanj), untuk membeli hadiah yang akan diberikan kepada istrinya di hari ulang tahun pernikahan mereka.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Wed,17 Mar 2021,11:49 AM

Tepi Barat, SPNA – “The Present” adalah kisah sederhana dan menarik tentang seorang buruh bernama Yusuf (diperankan oleh Saleh Bakri), yang suatu hari berangkat bersama putrinya yang masih kecil, Yasmine (diperankan oleh Mariam Kanj), untuk membeli hadiah yang akan diberikan kepada istrinya di hari ulang tahun pernikahan mereka.

Film yang disutradarai oleh wanita berdarah Inggris-Palestina, Farah Nabulsi, Senin (15/03/2021), masuk dalam daftar nominasi untuk Film Pendek Aksi Langsung terbaik di Academy Awards ke-93.

Melalui Twitter, Farah menulis,”… Berita luar biasa! The Present masuk dalam nominasi Oscar! Terima kasih The Academy!” Sembari menambahkan fotonya yang sedang berdiri di atas meja dengan senyum sumringah.

Sebelumnya, film ini telah memenangkan penghargaan Film Pendek Terbaik di Kompetisi Film Pendek Jim Sheridan, yang diadakan untuk pertama kalinya sebagai bagian dari Festival Film Arab Dublin ketujuh pada bulan Januari. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Nabulsi dan ditulis bersama oleh Hind Shoufani.

“Pada ulang tahun pernikahannya, Yusef dan putrinya yang masih kecil pergi ke Tepi Barat untuk membelikan istrinya hadiah. Melewati tentara, jalan terpisah, dan pos pemeriksaan, sesulit inikah berbelanja?" penggalan sinopsis The Present.

Melalui tulisan dan arahan Farah yang ketat dan bernuansa, film ini berhasil menggambarkan apa arti pos pemeriksaan Israel bagi puluhan ribu orang Palestina yang harus melewatinya setiap hari.

“Anda dapat menggambarkan pos pemeriksaan dengan semua fakta dan angka - seorang wanita dapat melahirkan di pos pemeriksaan; orang tidak bisa bekerja atau apa pun. Tapi Anda berdiri di pos pemeriksaan, itu adalah persepsi yang sangat berbeda dengan apa yang disediakan oleh fakta dan angka,” tuturnya.

Film ini berttujuan untuk mengekspos penghinaan dan kekerasan yang dialami setiap hari, yang berhasi menyensuh sisi kemanusiaan dan emosional.

Berbicara kepada MEMO tahun lalu, Nabulsi mengatakan film pendek itu didasarkan pada pengalamannya sendiri dan orang Palestina lainnya yang hidup dalam pembatasan pergerakan yang diterapkan pendudukan di Tepi Barat. Dia benar-benar tidak bisa memahami pos pemeriksaan.

(T.RA/S: Sources)

leave a reply
Posting terakhir