OCHA: Dalam 2 Minggu, Israel Hancurkan 8 Bangunan dan Mengusir 26 Warga Palestina

Total 621 bangunan Palestina dihancurkan atau disita di Tepi Barat selama 2019. Mayoritas bangunan itu dihancurkan dengan alasan kurangnya izin dan menggusur 914 warga Palestina.

BY 4adminEdited Sat,11 Jan 2020,04:22 PM

Yerusalem

Yerusalem, SPNA - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di wilayah Palestina yang diduduki menerbitkan Laporan Perlindungan Sipil, periode 24 Desember 2019 dan 6 Januari 2020, menyebutkan bahwa Israel menghancurkan atau menyita delapan bangunan di Area C di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki. Selain itu. mengusir 26 orang dan berdampak pada 29 lainnya.

Dikatakan bahwa lima dari bangunan ini, tiga diantaranya diberikan sebagai bantuan kemanusiaan, dihancurkan atau disita di dua komunitas penggembala yang terletak di daerah yang telah ditutup oleh otoritas Israel untuk pelatihan militer, atau "zona tembak". Tiga bangunan lainnya terletak di Yerusalem Timur.

Menurut badan PBB itu, total 621 bangunan Palestina dihancurkan atau disita di Tepi Barat selama 2019. Mayoritas bangunan itu dihancurkan dengan alasan kurangnya izin dan menggusur 914 warga Palestina. Angka-angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 35 dan 95 persen, dibandingkan dengan 2018.

Lembaga ini juga mengatakan bahwa pada 2019, pasukan Israel membunuh 15 warga Palestina dan melukai 3162 lainnya, termasuk 104 dengan tembakan langsung, selama protes dan bentrokan di Tepi Barat.

Pada 1 Januari, kata OCHA, "pemerintah Israel mencabut 147 pohon zaitun, yang berusia 25-30 tahun, yang berdampak pada mata pencaharian delapan keluarga Palestina dari desa al-Jaba' di distrik Betlehem. Israel mengklaim mereka berada di daerah yang ditunjuk sebagai 'tanah negara.'

Pada 2 Januari, pihak berwenang Israel menyita kendaraan 4X4 yang digunakan untuk mengangkut staf dan peralatan medis  ke klinik kesehatan keliling di daerah Massafer Yatta di Hebron selatan. Awak kendaraan ditahan selama beberapa jam. Tanpa klinik keliling ini, penduduk terpaksa menempuh jarak yang lebih jauh untuk mengakses layanan perawatan kesehatan primer.

Alasan untuk penyitaan kendaraan, yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan Palestina, masih belum jelas, kata OCHA. Massafer Yatta ditetapkan sebagai "zona tembak" dan 1.300 penduduknya menghadapi risiko pemindahan paksa.

(T.RA/S: MEMO)

leave a reply