Ketua Dewan Nasional Kuwait Lempar Dokumen 'Deal of Century' ke Tong Sampah

Ketua Dewan Nasional Kuwait, Marzouq Ghanim melempar dokumen Deal of Century ke dalam tong sampah dalam sidang darurat Parlemen Arab sesi ke 30 di Amman, Yordania.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sun,09 Feb 2020,10:23 AM

Amman, SPNA – Ketua Dewan Nasional Kuwait, Marzouq Ghanim melempar dokumen Deal of Century ke dalam tong sampah dalam sidang darurat Parlemen Arab sesi ke 30 di Amman, Yordania.

Tindakan ini sebagai simbol penolakan Kuwait terhadap Deal of Century.  "Atas nama bangsa Arab, Deal of Century adalah bagian dari sampah sejarah."

"Bangsa Palestina hidup menderita akibat dijajah Israel. Namun  mereka masih terus berjuang. Karena itu kami sebagai bangsa Arab yang terhina akibat tindakan Israel menyatakan penolakan keras atas rencana Israel dalam Deal of Century", tegasnya.

Dilansir Rt Arabic (08/02), Ghanim sambil melempar dokumen Deal of Century berkata: "Lihat, disinilah tempat yang cocok untuk  berkas ini, tempat sampah yang akan dilupakan sejarah."

Di sela-sela sidang Ghanim juga membahas langkah-langkah dalam mendukung Palestina bersama Ketua Parlemen Yordania, Atif Tarawneh.

Dalam sidang tersebut Tarawneh menyerukan bangsa Palestina menyatukan barisan serta engakhiri perpecahan demi melawan Deal of Century.

"Bangsa Palestina menghadapi krisis terparah akibat deskriminasi dan ketidakadilan Israel yang didukung Amerika Serikat. Israel dapat dengan bebas mengklaim wilayah, bahkan budaya serta peninggalan sejarah Palestina," tegasnya.

Sebelumnya Sebanyak 107 anggota Kongres menandatangani petisi berisikan penolakan dan kritikan tajam  atas solusi  perdamaian yang diusulkan Donald Trump tersebut.

 

Petisi tersebut diusulkan oleh dua anggota Kongres partai Demokrat dari negara bagian Michigan, Andrew Levane dan Alan Lowenthal. Surat kabar Israel menyebutkan bahwa keduanya beragama Yahudi.

 

28 Januari lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana politik dari Deal of Century yang telah lama ditunggu-tunggu.

 

Deal of Century yang digagas Donald Trump untuk perdamaian di Timur Tengah menetapkan Yerusalem ibukota bersatu bagi Israel.

 

Berdasarkan rencana Trump, ibukota Palestina akan dipindahkan di lingkungan Arab di sisi timur tembok apartheid Al-Quds. Lokasi tersebut terpisah dari seluruh wilayah Al-Quds lainnya. Wilayah tersebut mencakup Kafr Aqab, Abu Dis dan Shuafat. Palestina dapat menamai wilayah tersebut dengan "Al-Quds" menggunakan istilah

 

Sementara untuk situs suci di Al-Quds akan tetap berada dibawah kuasa Israel, termasuk Masjid Al-Aqsa.

 

Hal ini ditentang oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang menegaskan bahwa "Yerusalem tidak dijual. Kesepakatan konspirasi AS tidak akan berlaku di Palestina karena hanya melayani kepentingan Israel,'' tegasnya.

 

Indonesia dan Tunisia telah mengajukan Rancangan Resolusi menolak Deal of Century ke DK PBB. Berdasarkan RUU tersebut, Pemerintahan Donald Trump dinilai telah melanggar hukum internasional serta keputusan PBB. 

Sekjen PBB, Antonoio Guterres juga menegaskan dukungannya terhadap solusi dua negara dan keputusan DK PBB dalam menyelesaikan krisis di Palestina, serta  menolak Deal of Century yang digagas Donald Trump. 

Sikap yang sama disampaikan oleh Uni Eropa. Penanggung Jawab Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Joseph Borell menilai bahwa Deal of Century bertentangan dengan hukum internaisonal yang telah disepakati bersama.

(T.RS/S:RtArabic)

leave a reply
Posting terakhir