Israel gerebek taman kanak-kanak di Al-Quds

Para guru dan orang tua siswa mengutuk tindakan pasukan Israel yang menyerang sebuah sekolah di Al-Quds kemudian menangkap wakil kepala sekolah beserta tiga orang guru lainnya.

BY adminEdited Thu,09 Nov 2017,08:05 AM
Israel gerebek taman kanak-kanak di Al-Quds

Aljazeera - Al-Quds

Al-Quds, SPNA - Para guru dan orang tua siswa mengutuk tindakan pasukan Israel yang menyerang sebuah sekolah di Al-Quds kemudian menangkap wakil kepala sekolah beserta tiga orang guru lainnya.

Polisi Israel memasuki taman kanak-kanak dan sekolah dasar Zahwa al-Quds di lingkungan Beit Hanina, Al-Quds, Senin (06/11/2017), kemudian melakukan penangkapan. Para staf menjelaskan bahwa hal tersebut adalah dampak dari penolakan pihak sekolah terhadap kurikulum yang dipaksakan oleh Israel untuk diterapkan di sekolah mereka.

"Israel berusaha memaksa sekolah kami untuk menerapkan kurikulum pendidikan Israel," kata Ziad al-Shamali, kepala komite orang tua sekolah kepada Aljazeera pada hari Selasa. "Karena kami menolak, maka mereka memutuskan untuk menggerebek sekolah dan menakut-nakuti anak-anak kami."

Ola Nini, salah seorang guru, kepada Aljazeera mengatakan bahwa beberapa petugas polisi Israel yang tidak bersenjata dan berpakaian rapi, bersama pejabat dari kota Yerusalem Israel memasuki ruang kelas satu sekolah tersebut pada pagi hari. Zahwa al-Quds adalah sekolah swasta yang menampung sekitar 90 siswa berusia antara tiga hingga sembilan tahun.

Petugas memasuki semua kelas dan meminta kartu identitas masing-masing guru, kata Nini. Mereka kemudian mencatat semua nama dan membuat fotokopi identitas para guru tersebut.

Para petugas, tutur Shamali, menyita telepon dan menghapus rekaman kejadian di kamera pengawas sekolah tersebut.

"Petugas mulai menanyai murid-murid tentang buku yang mereka baca dan memotret buku-buku tersebut," jelas Nini. Petugas kemudian berjalan ke kantor kepala sekolah, menerobos masuk, kemudian menyita uang gaji guru dan surat-surat sekolah di laci meja kepala sekolah, tambahnya.

Selama penggerebekan, wakil kepala sekolah dan tiga guru dibawa ke tahanan Israel. Mereka kemudian dibebaskan pada Senin malam.

Ini bukanlah penggrebekan pertama bagi pertama sekolah Zahwa al-Quds. Menurut Nini, dua petugas polisi bersenjata Israel juga menyerbu dan menggeledah sekolah tersebut pada bulan September lalu.

Sekolah tersebut memperoleh izin Israel ketika didirikan sekitar setahun lalu, ungkap Shamali. Namun pada bulan Juli, Israel diduga mencabut lisensi tersebut setelah para staf menolak mengajarkan kurikulum Israel. Hal ini mengakibatkan pihak sekolah memperoleh izin Palestina dari Al-Waqf Islamic Trust.

Shamali mengatakan bahwa penargetan Israel terhadap Zahwa al-Quds adalah bagian dari rencana dalam memaksa sekolah-sekolah Palestina di Al-Quds untuk mengajarkan kurikulum Israel.

Sementara itu, Tahseen Elayyan, kepala departemen pemantauan dan dokumentasi di LSM hak asasi manusia Palestina al-Haq, mengatakan bahwa ada "upaya terus-menerus" yang dilakukan Israel untuk menerapkan sistem pendidikannya di sekolah-sekolah Palestina.

Tujuan Israel adalah "untuk melakukan distorsi terhadap sejarah Palestina, terlebih dalam kurikulum tersebut tidak disebutkan kekejaman yang dilakukan terhadap orang-orang Palestina pada tahun 1948 dan fakta sejarah lainnya yang terkait dengan sejarah Palestina di tanah ini", kata Elayyan.

(T.RA/S: Aljazeera)

leave a reply