Protes kebijakan deportasi Israel, migran Afrika memulai mogok makan

Tel Aviv, SPNA - Israel telah memutuskan untuk mengusir ribuan orang Eritrea dan Sudan yang memasuki 'negara' tersebut secara tidak resmi selama bertahun-tahun, memberi mereka ultimatum untuk pergi atau berisiko dipenjara tanpa batas waktu.

BY adminEdited Thu,22 Feb 2018,12:45 PM

Tel Aviv, SPNA - Israel telah memutuskan untuk mengusir ribuan orang Eritrea dan Sudan yang memasuki 'negara' tersebut secara tidak resmi selama bertahun-tahun, memberi mereka ultimatum untuk pergi atau berisiko dipenjara tanpa batas waktu.

Karena para migran dapat menghadapi bahaya atau pemenjaraan jika kembali ke tanah air mereka, Israel menawarkan untuk memindahkan mereka ke negara ketiga yang tidak disebutkan namanya, yang disinyalir oleh para migran dan pekerja bantuan, negara tersebut tersebut adalah Rwanda atau Uganda.

Pihak berwenang pada hari Selasa (20/02/2018) memindahkan tujuh orang Afrika dari pusat penahanan Holot ke sebuah penjara di dekatnya, yang mengakibatkan 750 orang yang ditahan di Holot untuk melancarkan mogok makan malam itu, kata Abdat Ismael, seorang warga Eritrea yang ditahan di fasilitas terbuka Israel selatan.

Pada hari Rabu, lima lainnya dibawa ke penjara, kata Ismail kepada AFP.

Seorang jurubicara kementerian dalam negeri Israel mengkonfirmasi bahwa mereka telah mulai menerapkan kebijakan deportasi atau penjara terhadap tahanan Holot menjelang 1 April untuk orang-orang Afrika lainnya yang telah memasuki Israel secara ilegal.

Ismael mengatakan bahwa mereka lebih memilih penjara daripada harus dideportasi ke Afrika.

"Kami melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang pergi (ke negara-negara Afrika lainnya) satu atau dua tahun yang lalu, mereka tidak menerima suaka dan bisa mati," katanya.

Para migran mulai memasuki Israel melalui perbatasan Mesir pada tahun 2007. Sejak saat itu, keamanan di perbatasan telah diperkuat, kecuali penyeberangan ilegal.

Rencana deportasi atau pemenjaraan ini telah menuai kritik dari badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan juga beberapa lembaga lainnya di Israel.

Menurut data kementerian dalam negeri, saat ini ada sekitar 42.000 migran Afrika di Israel, setengahnya adalah anak-anak, wanita atau pria berkeluarga, yang tidak menghadapi batas waktu deportasi pada bulan April.

(T.RA/S: France24)

leave a reply
Posting terakhir