Larangan memasuki Israel bagi turis Indonesia ancam industri pariwisata Yerusalem Timur

Yerusalem, SPNA - Jakarta mengecam keras Israel karena penggunaan kekuatannya terhadap para demonstran Palestina yang berdemonstrasi di sepanjang perbatasan Israel-Gaza selama aksi .....

BY adminEdited Sat,09 Jun 2018,11:35 AM

Yerusalem, SPNA - Jakarta mengecam keras Israel karena penggunaan kekuatannya terhadap para demonstran Palestina yang berdemonstrasi di sepanjang perbatasan Israel-Gaza selama aksi "Great March Return"  - yang diadakan dan menyusul peringatan "Hari Nakba (bencana)."  Namun Israel merasa tersinggung dengan apa yang disanggah Yerusalem sebagai tuduhan palsu, kutip The Jerusalem Post, Sabtu (09/06/2018).a

Langkah Jakarta tersebut terjadi di tengah adanya laporan bahwa sebenarnya Indonesia sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan wisatawan dari negara Yahudi itu untuk masuk ke Indonesia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon menegaskan kepada The Media Line bahwa pemerintahnya tidak akan mencabut larangannya sampai Jakarta melakukan hal yang sama.

"Kami menunggu langkah tertentu dan Indonesia tidak melakukannya," katanya. Nachshon menjelaskan bahwa sejauh ini upaya diplomatik Israel untuk mengubah situasi telah gagal. Kenyataannya, demonstrasi-demonstrasi di Indonesia sendiri adalah anti-Israel dan pro-Palestina, yang hanya menyisakan sedikit ketertarikan pihak Israel untuk membantu membawa warganya sebagai turis.

Larangan Israel mengecualikan para pebisnis dan pelajar Indonesia, yang dapat memasuki Israel dengan menggunakan visa khusus yang tidak berlaku untuk wisatawan. Namun jumlah mereka tidak sebanding dengan puluhan ribu wisatawan Muslim dan Kristen asal Indonesia yang mengunjungi Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan Gereja Kelahiran di Bethlehem dengan menggunakan visa khusus.

"Bisnis saya akan terhambat dan saya harus memangkas staf menjadi setengah," Sana Srouji, pemilik agen Royal Travel mengatakan kepada The Media Line.

Ditekankannya bahwa akibat keputusan yang tiba-tiba dan "tidak adil" tersebut, ia akan mengalami krisis keuangan yang besar. "Saya sudah punya reservasi untuk Juni dan Juli; saya sudah mengeluarkan visa dan memesan tempat," jelasnya. Srouji harus mengembalikan uang kepada lebih dari 3.000 wisatawan Indonesia.

Srouji mencatat bahwa tingkat pengangguran di Yerusalem timur (Al-Quds) sangat tinggi dan keputusan terbaru pemerintah Israel akan mempengaruhi terutama agen perjalanan Arab karena kebanyakan mereka bekerja dengan wisatawan. Minimal, Israel akan kehilangan biaya yang dikumpulkan untuk visa dan tiket masuk bagi lima puluh ribu pelancong.

Untuk beberapa agen, Indonesia menjadi pasar bagi produk roti dan mentega. Wisam Toumeh, pemilik biro perjalanan Gemm di Jerusalem Timur menegaskan bahwa lebih dari sebelas agen perjalanan bergantung pada pariwisata Indonesia.

"Kami melakukan pariwisata, bukan politik. Mereka tidak punya hak untuk bermain dengan mata pencaharian kami, ini bisnis kami," katanya, mendesak pemerintah Israel untuk bertanggung jawab atas keputusannya yang akan berdampak negatif pada begitu banyak orang — terutama orang Arab.

"Kami mendekati semua departemen pemerintah yang berkaitan dengan keputusan itu dan mereka bahkan tidak akan berbicara dengan kami," kata Toumeh, yang menuntut agar pemerintah segera membatalkan keputusannya. "Saya akan mengalami kerugian lebih dari setengah juta dolar AS."

Bisnis-bisnis yang berhubungan dengan perjalanan di Yerusalem timur - termasuk agen, perusahaan bus, hotel dan freelancer - telah menyerukan adanya acara media pada hari Minggu yang mendesak untuk "mengatasi penderitaan mereka." Menurut penyelenggara, acara akan menekankan bagaimana pertikaian antara Israel dan Indonesia akan mempengaruhi kondisi perekonomian yang sudah miskin di Yerusalem timur, meningkatkan tingkat pengangguran bahkan lebih dari itu dan menghancurkan bisnis yang sudah mapan serta banyak keluarga keluarga.

Tidak ada hubungan diplomatik antara Israel dan Indonesia, tetapi kedua negara memiliki hubungan ekonomi yang baik. Pada 2015, Kementerian Ekonomi Israel melaporkan lonjakan perdagangan antara kedua negara, diperkirakan sekitar $ 500 juta setiap tahun. Ekspor utama Indonesia ke Israel termasuk bahan mentah seperti plastik, kayu, batu bara, tekstil dan minyak sawit.

Sepuluh ribu orang Indonesia mengunjungi Israel setiap tahun, dengan jumlah yang terus bertambah hingga sekarang. Pada tahun 2013, misalnya, 30.000 turis Indonesia mengunjungi Israel, menandai peningkatan tiga kali lipat selama 2009.

(T.RA/S: JPost)

leave a reply
Posting terakhir