197 warga Palestina gugur dan lebih dari 21.000 luka-luka sejak dimulainya aksi Great March of Return

\Jalur Gaza, SPNA - Departemen Kesehatan Gaza, melaporkan bahwa jumlah syuhada sejak dimulainya demonstrasi Great March of Return  30....

BY adminEdited Sat,06 Oct 2018,10:42 AM
5.jpg

\Jalur Gaza, SPNA - Departemen Kesehatan Gaza, melaporkan bahwa jumlah syuhada sejak dimulainya demonstrasi Great March of Return  30 Maret lalu hingga saat ini mencapai 197 korban jiwa dan lebih dari 21 ribu luka-luka.

Juru bicara Menkes Gaza menegaskan bahwa tim medis akan tetap melakukan tugas kemanusiaan di Jalur Gaza meskipun mereka disasar sniper Israel.

“Kami akan terus melaksanakan tugas mulia menyelamatkan warga Gaza yang menjadi sasaran peluru Israel, meskipun kami harus merenggang nyawa, ‘’ seperti dilansir Maannews, Jum’at (05/09/2018).

3 warga dilaporkan gugur sementara ratusan lainnya luka-luka akibat peluru panas dan air mata dalam aksi Great Marc of Return, Jum’at sore kemarin di Jalur Gaza.

Sementara itu Perdana  Menteri Israel, Benyamin Netanyahu menyatakan akan membalas serangan apapun yang berasal dari Gaza ke permukiman Israel.

Disaat yang sama Menteri Pertahanan Israel juga memerintahkan pasukannya untuk siaga satu di perbatasan Gaza.

Lieberman juga mengancam akan melancarkan operasi militer ke Gaza setelah perayaan Yahudi yang dimulai September lalu berakhir.

Berdasarkan informasi yang dilansir Rt Arabic, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa wilayah perbatasan Gaza menjadi area militer yang diisolir. IDF juga menambah  personelnya di perbatasan Gaza.

Gerakan perlawanan Islam, Hamas mengatakan bahwa pernyataan Lieberman menyerang Gaza adalah omong kosong. ‘’Ancaman Liberman tidak mampu menghentikan aksi Great March of Return. ‘’ tegas Hamas seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Jalur Gaza adalah wilayah yang terisoliasi akibat blokade Israel yang telah berlangsung selama lebih dari 11 tahun. Selain itu, Pemerintah AS bulan lalu juga menghentikan donasinya terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina UNRWA yang merupakan tulang punggung sebagian besar rakyat Gaza.

Situasi sulit ini memaksa warga Gaza menggelar aski masal “Great March of Return”, menuntut Israel untuk menghapus blokade yang membuat warga Gaza sengsara serta memulangkan pengungsi Palestina ke tanah air.

Puluhan ribu warga Palestina yang tidak bersenjata dilaporkan berkumpul di perbatasan Gaza untuk menerobos pagar pembatas dan menembakkan layangan dan balon pembakar.

Sementara itu pasukan Israel menembaki para demonstran secara membabi buta.

Serangan dan tindak kekerasan pasukan pertahanan Israel (IDF) terhadap warga Gaza sejak 30 Maret silam hingga saat ini menelan korban jiwa sebanyak 202 orang dan lebih dari 2900 lainnya luka-luka, seperti dilansir Menkes Gaza minggu lalu.

Sebelumnya Sekjen PBB Antonio Guterres dan Komisaris Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Federica Mogherini menyerukan lembaga internasional untuk melakukan penyelidikan independen terhadap tindak kriminal pasukan Israel terhadap demonstran Palestina.

Awal tahun 2018, Guterres juga memperingatkan bahwa Gaza akan menjadi wilayah tak layak huni di  tahun 2020.

Ia juga juga mendesak masyarakat internasional berkontribusi menangani krisis di Palestina sesuai resolusi PBB terkait.

(T.RS/S:Maannews)

leave a reply
Posting terakhir