Daarut Tauhiid Peduli buka Dapur Umum di RS.Eropa, Gaza Selatan.

Yayasan Daarut Tauhiid (DT) Peduli kembali meluncurkan program bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza dengan membuka dapur umum di RS. Eropa yang terletak di Khan Yunis, Gaza selatan.

BY adminEdited Wed,20 Feb 2019,02:05 PM

Gaza, SPNA - Berbagai lembaga hak asasi manusia di Palestina telah mengeluarkan laporan sangat mencengngkan dunia kemanusiaan, khususnya di Jalur Gaza. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Jalur Gaza, yang memiliki luas 367 Km persegi (setara dengan luas DKI Jakarta), di bawah blokade Israel telah tumbuh menjadi “kamp konsentrasi”

Dihuni oleh dua juta jiwa, Gaza yang telah hidup dalam blokade Israel selama lebih dari satu dekade, berubah menjadi “penjara tersesar” di dunia. Bagaimana tidak, pintu perbatasan yang merupakan satu-satunya akses dari dan ke luar Gaza, masih tertutup. Kunjungan dan bantuan kemanusiaan terlampau sulit untuk menembus kawasan ini.

Akhir 2018 hingga awal 2019, adalah klimaks dari krisi yang dialami warga Gaza dalam 12 tahun terakhir. Pengangguran, pemotongan gaji pegawai, tidak tersedianya lapangan kerja, dan berhenti beroperasinya lembaga-lembaga kemanusiaan yang bernaung di bawah PBB, menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi wilayah kantong ini.

Di berbagai rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan, tidak sedikit pasien yang terbaring lemah di bangsal. Di mana mayoritas dari mereka adalah anak-anak.

Kementrian Kesehatan Palestina di Gaza, dalam konfrensi pers pada awal Februari menyebutkan, “Lebih dari dari 8.500 rakyat Palestina di Gaza mengidap penyakit kanker. Mereka terancam meninggal dunia akibat minimnya bantuan obat-obatan dan bantuan makanan. Hampir semua rumah sakit di Gaza dilanda krisis listrik dan bahan bakar.”

“Tidak bisa dibayangkan sebuah rumah sakit terancam tutup dan tidak bisa lagi melayani pasien setelah alat kesehatan yang tak berfunsgsi, kamar operasi tidak memiliki penerangan akibat generator kososng tanpa bahan bakar minyak,” tambah pernyataan tersebut.

Krisis yang melanda seluruh rumah sakit tersebar di wilayah Gaza, baik Gaza utara, Gaza selatan hingga Gaza timur ini menjadi yang terparah sepanjang sejarah Palestina. Bahkan RS. Asy-Syifa di Kota Gaza, yang menjadi rumah sakit rujukan terbesar di Palestina, pun tak bisa lepas dari krisis ini.

Atas kenyataan di atas, Yayasan Daarut Tauhiid (DT) Peduli kembali meluncurkan program bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza. Program ini dilakukan dengan membuka dapur umum di sebuah rumah sakit yang terletak di Khan Yunis, Gaza selatan. Di kota ini, DT Peduli menjalankan programnya di sebuah Rumah Sakit Eropa. Sebuah rumah sakit yang didanai oleh Eropa, yang juga tak bisa lepas dari krisis bahan bakar yang melanda wilayah Gaza.

Saat ditemui Abdillah Onim, Kepala Bagian di Rumah Sakit Eropa Khan Yunis menuturkan, “Kami sedang mengalami krisis terparah. Kami hanya berharap kepada ALLAH. Kami bingung harus bebuat apa saat menyaksikan ribuan pasien terbaring tanpa obat-obatan dan makanan. Krisis kemanusiaan ini tidak memberikan kami hak kemanusiaan.”

DT Peduli membuka Dapur Umum ini pada Minggu (11/02/2019), yang akan memasak dan menyediakan 4000 paket makanan bagi pasien. Dapur Umum ini akan beraktivitas selama 15 hari kedepan. Menu yang disediakan merupakan referensi dari kementrian kesehatan Palestina. Hari pertama pasien akan menerima paket makan yang terdiri atas olahan ayam, daging, nasi, salad sayur dan buah. Seiap pasien akan menerima paket makanan ini sebanyak makanan tiga kali sehari. Hari pertama makanan didistribusiakn ke ruang rawat anak, rawat inap untuk pasien kanker dan ruang inap khusus wanita.

(SPNA)

leave a reply
Posting terakhir