Negara Mayoritas Muslim ini Resmi Jalin Hubungan Diplomatik dengan Israel

Negara manyoritas muslim, Kosovo, resmi mengumumkan hubungannya dengan Israel. Negara tersebut bahkan akan membangun Kedutaan Besarnya untuk Israel di kota Yerusalem.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sat,05 Sep 2020,10:08 AM

Washington, SPNA - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, Jumat (04/09), mengatakan bahwa Kosovo dan Israel telah sepakat untuk menormalisasikan hubungan mereka dan membangun hubungan diplomatik. Selain Kosovo, Serbia disebutkan juga akan membuka kedutaan mereka untuk Israel di Yerusalem.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dihari yang sama mengkonfirmasi bahwa Kosovo telah setuju untuk membuka kedutaan besarnya di Yerusalem. Kosovo akan menjadi negara mayoritas muslim pertama yang akan membangun Kedutaannya di Kota Palestina yang dijajah Israel itu.

Pengumuman pembukaan kedutaan datang tak lama setelah Netanyahu mengatakan bahwa Israel dan Kosovo telah sepakat untuk menjalin hubungan diplomatik.

Dalam pidatonya di Oval Office sebelum bertemu dengan para pemimpin Serbia dan Kosovo, Trump mengumumkan bahwa kedua negara telah sepakat untuk menormalisasi hubungan ekonomi antara kedua negara.

"Serbia dan Kosovo menjanjikan normalisasi ekonomi, dengan fokus pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Kedua negara dapat mencapai terobosan besar." Tambah Trump.

Perdana Menteri Serbia, Aleksandar Vucic, mengutarakan kepada wartawan, di sana masih banyak sengketa antara Serbia dan wilayah yang ingin memisahkan diri itu. Tetapi ia mengatakan bahwa kesepakatan ini adalah sebuah kemajuan besar.

Sementara itu, Perdana Menteri Kosovo, Avdullah Hoti, menegaskan bahwa kesepakatan tersebut harus mengarah pada saling mengakui kedaulatan antara kedua negara.

Kemajuan yang luar biasa

Robert O'Brien, Penasihat Keamanan Nasional Presiden AS, menulis dalam sebuah Tweet pada Kamis (03/09) sore, "Mereka telah membuat kemajuan besar, diskusi akan terus berlanjut."

 

Negosiasi antara Serbia dan Cosovo, ditengahi oleh O'Brien dan Richard Grenell, utusan khusus Amerika untuk misi perdamaian kedua negara.  O'Brien menambahkan "normalisasi ekonomi berarti pekerjaan bagi kaum muda."

Perlu diketahui bahwa Serbia pernah menolak untuk mengakui kemerdekaan yang dideklarasikan Kosovo secara sepihak pada 2008 setelah perang tahun 1990-an yang menewaskan 13.000 orang.

Serbia menerima dukungan dari sekutunya Rusia dan China, sementara Amerika Serikat adalah salah satu negara pertama yang mengakui negara baru itu.

(T.HN/S: Aljazeera)

leave a reply