HUT-RI di Gaza, sang saka merah putih berkibar di langit Palestina

Sejak 2017 lalu hingga saat ini, rakyat Palestina masih setia memperingati HUT Kemerdekaan RI.

BY adminEdited Sun,18 Aug 2019,06:43 PM

SPNA - Jalur Gaza

Jalur Gaza, SPNA - Meskipun dilanda konflik berkepanjangan, namun hal ini tidak menghalangi warga Palestina melaksanakan upacara HUT RI ke-74.

Fenomena ini jarang terjadi di negara yang dilanda konflik dan krisis seperti Palestina, namun Palestina sejak awal kemerdekaan telah menunjukkan kesetiaan dengan Ibu pertiwi.

Palestina tercatat sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia yang kemudian disusul oleh Mesir.

Sejak 2017 lalu hingga saat ini, rakyat Palestina masih setia memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Perlu dicatat, situasi di Palestina masih mencekam setiap harinya,  terutama di Jalur Gaza yang diklaim oleh sejarawan Oxford University, Avi Shlaim sebagai penjara terbesar di dunia.

Perekonomian Gaza lumpuh total akibat blokade yang telah berlangsung selama 13 tahun.

Bahkan Sekjen PBB Antonio Guterres sudah mewanti-wanti bahwa Gaza akan menjadi wilayah tak layak huni pada 2020 mendatang akibat blokade, pelanggaran kemanusiaan serta agresi Israel.

Penangkapan, penghancuran properti bahkan eksekusi mati di tempat sudah menjadi sarapan pagi bagi rakyat Palestina.

Meskipun demikian, media sosial terkadang hanya menampilkan foto atau video-video situasi di Palestina yang terlihat aman. Beberapa netizen bahkan ada yang berkomentar: “Kok Gaza aman-aman saja, tidak kelihatan lagi berperang?”

Atau ada berkomentar: “Katanya perang, kok tak ada bangunan yang runtuh?”

Komentar  tersebut sering dilontarkan netizen di akun media sosial Abdillah Onim baik di FB, Instagram atau Youtube.

Terkait dengan komentar diatas, disini perlu diperjelas bahwa Palestina tidak berperang dengan Israel setiap hari namun kita tidak tahu kapan Israel meluncurkan roket lalu menghancurkan Gaza.

Israel dapat menyerang Gaza kapan saja. Jika terjadi perang besar biasanya  berlangsung paling lama 2 bulan.

Namun yang sering  terjadi adalah perang dalam rentang waktu singkat, seperti 3 hari, 1 minggu atau 10 hari.

Ketika perang meletus rudal Israel dapat menyasarakat lokasi mana pun di Gaza baik di lokasi pertanian, industri bahkan di permukiman penduduk.

Jika ini terjadi maka tak jarang nyawa warga melayang atau luka-luka. Jika pun selamat,  mereka terpaksa menjadi tunawisma karena rumah mereka habis rata dengan tanah akibat serangan roket.

Bagaimana Peringatan HUT – RI di Gaza dimulai

Berawal dari tahun 2016, seorang kerabat berasal dari Gaza memberikan saran, “Ya Akhi Onim, negara Indonesia itu sudah merdeka dan setiap tahun kalian pasti mengadakan peringatan kemerdekaan kan?”

“Benar,” jawab saya.

“Tanggal berapa kalian memperingati kemederkaan? timpalnya“

Saya lalu menjawab “Setiap tanggal 17 Agustus. Karena kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.”

Beliau kembali bertanya: “Apa mungkin kalau kita menggelar acara HUT-RI di Gaza. Kita bisa melakukan kegiatan seperti solidaritas atau doa dari Palestina untuk Indonesia atau kegiatan sejenisnya?”

“Wah itu ide bagus,” jawab saya.

Saya setuju dengan ide tersebut, namun menggelar acara HUT-RI di Gaza banyak tantangan. Kami butuh persiapan serta dituntut melatih orang-orang Palestina yang notabenenya belum paham soal Indonesia.

Terlebih lagi, Palestina belum pernah merayakan kemerdekaan negara mereka sendiri karena masih dijajah Yahudi.

Lalu, jelang HUT-RI tahun 2017, saya mulai mempelajari situasi di Gaza.

Saya menemukan bahwa ternyata Gaza punya paskibra. Mereka juga memiliki lapangan luas yang dapat dijadikan lokasi berlangsungnya upacara bendera disamping rakyat Gaza yang juga sangat antusias dengan Indonesia.

Berarti sangat memungkinkan untuk menggelar HUT-RI di Gaza dengan masa hingga 500 jiwa.

Di sinilah cikal bakal peringatan HUT-RI di gelar di Gaza yang dikoordinir langsung oleh Abdillah Onim (Bang Onim).

Tahun ini, Sebanyak  900 warga Palestina turut memeriahkan HUT Republik Indonesia ke 74.

Beberapa tokoh pemerintah dan ulama Palestina turut hadir dalam momen paling sakral bagi masyarakat Indonesia ini. 

Diantaranya, Menteri Kesehatan Palestina, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta wakil, relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia serta ratusan santri Tahfizul Qur’an.

Aktivis kemanusiaan, Abdillah Onim bertindak sebagai pembaca teks proklamasi.

Demi menjalankan misi kemanusiaan, Abdillah Onim memilih menetap di Jalur  Gaza sejak satu dekade lalu, disamping menjabat sebagai pembina Yayasan Nusantara Palestina Center, sekaligus Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia di Amman Yordania.

Dalam acara tersebut, sang saka merah putih dikibarkan oleh  Paskibra Gaza diiringi lagu kebangsaan Indonesia.

Wakil Menteri Kebudayaan Palestina, Dr. Anwar Barawi menyampaikan selamat kepada bangsa Indonesia. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia yang selalu berada di garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Acara yang digelar di taman Bisan,  Bait Lahiyah, Gaza utara tersebut ditutup dengan sejumlah perlombaan, seperti lari karung, tarian Beksan Wanara, tarian jawa, tarian tradisional Palestina yang dikenal dengan “Dabkah”, hingga panjat pinang dan tarik tambang.

Sejak 4 tahun terakhir rakyat Palestina sangat antusias berpartisipasi dalam HUT-RI sebagai bentuk suka cita atas kemerdekaan yang diraih rakyat Indonesia.

Ini merupakan bukti  eratnya hubungan kedua negara, Indonesia dan Palestina yang telah berlangsung sejak lama.

(SPNA)

leave a reply