Myanmar menunjuk atase militer ke Israel

Menurut Radio KAN Israel, sebuah delegasi pejabat senior dari Myanmar berada di Israel dan bertemu dengan Menteri Komunikasi Ayoob Kara di kantornya di Knesset pada Rabu (04/07/2018).

BY adminEdited Sat,07 Jul 2018,12:57 PM

MEMO - Yerusalem

Yerusalem, SPNA - Myanmar telah menunjuk atase militer ke Israel, media lokal melaporkan pada Kamis (05/07/2018). Menurut Radio KAN Israel, sebuah delegasi pejabat senior dari Myanmar berada di Israel dan bertemu dengan Menteri Komunikasi Ayoob Kara di kantornya di Knesset pada Rabu (04/07/2018).

Atase militer tersebut akan berpartisipasi dalam konferensi dan perjalanan yang diselenggarakan oleh tentara Israel. Bahkan, seorang perwakilan militer Myanmar menghadiri konferensi Angkatan Udara Israel beberapa bulan lalu. Atase dari negara yang sebelumnya bernama Burma tersebut juga menghadiri konferensi lain yang termasuk dalam pertunjukan senjata. Laporan radio menunjukkan bahwa ini terjadi ketika Uni Eropa sedang menyusun sanksi terhadap para jenderal Myanmar.

Para pengamat melihat penunjukan atase militer ke Israel sebagai tanda kerjasama militer yang erat antara Tel Aviv dan negara yang dituduh oleh PBB melakukan pembantaian dan pembersihan etnis terhadap minoritas Muslim Rohingya. Memang, laporan media Barat tahun lalu mengungkapkan bahwa Israel adalah pengekspor utama senjata ke Myanmar. Tel Aviv dan Myanmar memiliki perjanjian tentang penjualan senjata buatan Israel dan pertukaran informasi dan intelijen.

Tentara Myanmar melakukan kekejaman terhadap Muslim Rohingya, termasuk pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran rumah dan pemindahan penduduk. Namun, Tel Aviv menolak untuk menghentikan penjualan senjata kepada pemerintah di Naypyidaw, meskipun ada kecaman internasional bahwa senjata Israel digunakan untuk menyerang Muslim Rohingya.

(T.RA/S: MEMO)

leave a reply
Posting terakhir
Israel tolak hentikan penjualan senjata ke Myanmar

Israel tolak hentikan penjualan senjata ke Myanmar

Israel menolak untuk menghentikan penjualan senjata ke junta militer di Myanmar, meskipun laporan terakhir dan data PBB menunjukkan pembantaian yang dilakukan oleh pemerintah negara tersebut terhadap minoritas Rohingya, demikian pula dengan perkosaan dan pengusiran secara sistemis.