Erdogan: Jika di dunia ini masih ada pemimpin bengis, maka dia adalah Netanyahu”

“Anda (Netanyahu) berupaya memprovokasi kami, namun tidak akan berhasil karena kami tidak akan termakan provokasi. Kami menganut agama universal (Islam) yang mengajarkan agar tidak jatuh dalam provokasi.”

BY adminEdited Thu,14 Mar 2019,02:34 PM

Istanbul, SPNA - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dilaporkan kembali melakukan perang mulut dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

Erdogan dalam pidatonya di Istanbul, Rabu malam (13/03/2019) mengatakan: “Jika di dunia ini ada pemimpin bengis, maka dia adalah Netanyahu.”

“Anda (Netanyahu) berupaya memprovokasi kami, namun tidak akan berhasil karena kami tidak akan termakan provokasi. Kami menganut agama universal (Islam) yang mengajarkan agar tidak jatuh dalam provokasi.”

“Bukankah mereka yang menginjakkan kakinya di Masjid suci, Al-Aqsa adalah pasukan  dan polisi anda ? bagaimana anda dapat membenarkan pelanggaran hukum ini?”  ujar Erdogan seperti dikutip Rt Arabic dari Anadolu Agency.

Sebelumnya Netanyahu juga menuding bahwa Erdogan adalah diktator yang memenjarakan ribuan pesaing politiknya. Hal ini disampaikan setelah Erdogan mengatakan bahwa Netanyahu adalah pembunuh anak-anak Palestina yang masih berusia 7 tahun.

Sejak Selasa lalu, Erdogan dan Netanyahu saling perang mulut setelah PM Israel tersebut mengatakan bahwa Israel adalah Negara khusus untuk bangsa Yahudi.

Menteri Urusan Luar Negeri, Uni Emirat Arab, Anwar Qarqash juga mengkritik pernyataan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu bahwa Israel negara untuk bangsa Yahudi. Qarqash melalui Twitternya, Selasa (12/03/2019) menulis bahwa pernyataan Netanyahu menjijikkan dan merusak perdamaian.

“Pernyataan bahwa Israel bukan negara untuk seluruh warganya, sangat menjijikkan. Hal ini memberikan alasan bagi kelompok ekstremis untuk melancarkan serangan serta merusak  perdamaian,’’ tulisnya seperti dilansir Rt Arabic.

Kritikan yang sama juga dilontarkan majalah Inggris,  The Guardian.  Netanyahu dinilai menjadikan warga Arab Palestina masyarakat kelas dua.

The Guardian menambahkan bahwa seharusnya Netanyahu malu untuk mencalonkan diri dalam pemilu mendatang karena meresmikan hukum yang memarginalkan komunitas Arab yang telah ada sebelum Israel berdiri,  ditambah tudingan suap dan penyalahgunaan kekuasaan terhadapnya.

“Langkah-langkah Netanyahu tersebut menunjukkan sikap fanatik buta dan melenceng ke arah ekstremis. Netanyahu berubah ke sayap kanan dan mengumpulkan seluruh kekuatan politik anti-Arab yang mendukung hunian ilegal.”

Pertengahan Juli lalu, pemerintah Israel mengesahkan UU kebangsaan Yahudi yang memberikan hak eksklusif bagi warga Yahudi untuk menentukan nasib mereka sendiri. UU tersebut menuai gelombang protes karena menjadikan komunitas Arab warga kelas dua.

(T.RS/S:RtArabic)

leave a reply
Posting terakhir