Kisah Keluarga Rajbi di Silwan yang Hadapi “Perang Israel” Akibat Mencintai Yerusalem

Keluarga Nidal Al-Rajbi membayar pajak stabilitas di Yerusalem dan Rabat tanpa lelah. Namun, beberapa hari yang lalu, pasukan pendudukan Israel menghancurkan toko milik Nidal Al-Rajbi, di lingkungan Al-Bustan di Silwan.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Sun,11 Jul 2021,02:09 PM

Yerusalem, SPNA - Seorang nenek tergeletak di pintu ruang perawatan intensif di mana cucunya, Harbi Al-Rajbi, baru saja ditembak oleh tentara pendudukan Israel. Ia menunggu Harbi. Tidak ada yang menghibur hatinya, selain air mata yang terus ia tumpahkan.

Beberapa hari yang lalu, air mata yang sama juga ia tumpahkan ketika melihat toko ayah Harbi di Silwan, dirobohkan. Tak berhenti di situ, lalu Harbi dan ayahnya ditangkap pendudukan Israel pada hari yang sama.

Keluarga Nidal Al-Rajbi membayar pajak stabilitas di Yerusalem dan Rabat tanpa lelah. Namun, beberapa hari yang lalu, pasukan pendudukan Israel menghancurkan toko milik Nidal Al-Rajbi, di lingkungan Al-Bustan di Silwan.

Ditebak dari Belakang

Al-Rajbi, ayah Harbi, menjelaskan bahwa putranya ditembak di punggung pada saat pergi salat Magrib. Nidal tidak tahu bagaimana dan mengapa Harbi ditembak. Al-Rajbi menyebut bahwa Harbi tidak berpartisipasi dalam konfrontasi apa pun melawan tentara pendudukan Israel.

Ia menunjukkan bahwa kamera pengintai merekam seorang prajurit pasukan pendudukan Israel yang menembak secara acak tanpa alasan apa pun, yang melukai putranya. Al-Rajbi menjelaskan bahwa peluru tersebut ditembakkan dari jarak jauh.

“Jika dari jarak dekat, peluru itu akan keluar pada saat yang sama dari tubuh Harbi,” kata Al-Rajbi sebagaimana dilansir dari Palestina Today, pada Sabtu (10/07/2021).

Al-Rajbi memuji Tuhan atas apa yang telah menimpa diri dan keluarganya. Ia menekankan bahwa segala sesuatu yang membawa keluarganya menjadi target sasaran pendudukan Israel merupakan harga yang harus dibayar akibat keberadaannya di Yerusalem. Al-Rajbi menegaskan akan membayar harga dengan kepuasan hati.

“Mereka merampas keamanan kami di rumah, merampas mata pencaharian, dan menghancurkan kehidupan. Pendudukan Israel berusaha untuk menghancurkan hal yang lain. Juga, tidak ada keamanan di jalan dan di berbagai tempat ibadah kami karena itu adalah bagian dari kebijakan pendudukan,” kata Al-Rajbi.

Ia menunjukkan bahwa kondisi kesehatan putranya sekarang dalam keadaan stabil. Ia menekankan bahwa putranya, Harbi, menderita pendarahan terus menerus, yang mulai berhenti kemarin malam, pada Jumat (09/07/2021).

Al-Rajbi berterima kasih kepada para dokter Rumah Sakit Al-Makassed di Yerusalem yang telah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya.

Tekad Kuat

Al-Rajbi menganggap pasukan pendudukan Israel bertanggung jawab penuh atas kondisi kesehatan putranya. Ia menegaskan bahwa serangan pendudukan Israel yang dilakukan terus-menerus bertujuan untuk membatasi dan menakut-nakuti pergerakan penduduk Yerusalem di satu sisi, dan melindungi para pemukim atau program yahudinisasi pada sisi lain.

Al-Rajbi menekankan bahwa serangan pendudukan tidak akan mempengaruhi tekad penduduk Palestina di Yerusalem, melainkan akan meningkatkan ketabahan dan rasa cinta mereka terhadap Yerusalem.

“Biarkan pendudukan Israel tahu bahwa serangan yang tidak membunuh kita membuat kita semakin kuat,” tegas Al-Rajbi.

Harbi Nidal Al-Rajbi, 18 tahun, dilaporkan telah ditembak oleh pendudukan Israel dari belakang pada saat mereka menyerbu lingkungan Bir Ayoub di Silwan pada Jumat malam. Ia dirawat di Rumah Sakit Al-Makassed dalam ruang perawatan intensif. Harbi telah menjalani operasi di mana salah satu ginjalnya dan sebagian limpanya diangkat dan pendarahan akibat penyakit diabetes yang dideritanya juga sudah dihentikan.

Ketika Harbi berada di rumah sakit, pasukan pendudukan Israel menyerbu, memeriksa rumah sakit untuk mencari korban luka tembak, dan meminta peluru yang mengenai Harbi.

Harbi Al-Rajbi pernah ditangkap dan dipukuli beberapa kali, terakhir bulan lalu. Saat itu, dia dideportasi dari Yerusalem Lama. Ia juga ditangkap pada 2018 dan menjalani interogasi keras, kemudian dibebaskan dengan syarat dipindahkan dari tempat tinggalnya di Silwan dan dikenai tahanan rumah.

(T.FJ/S: Palestina Today)

leave a reply
Posting terakhir