Kisah Pilu Ibu Hamil Palestina Yang Dianiaya di Penjara Israel

Sejak awal ditangkap oleh kepolisian Israel, para ibu hamil Palestina telah banyak menanggung derita akibat perlakukan tak manusiawi terhadap mereka. Begitu ditangkap, tangan dan kaki mereka diikat dengan rantai besi. Mata mereka ditutup rapat agar mereka tak tau dibawa ke mana.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,13 Sep 2021,10:35 AM

Jalur Gaza, SPNA - Sejak awal ditangkap oleh kepolisian Israel, para ibu hamil Palestina telah banyak menanggung derita akibat perlakukan tak manusiawi terhadap mereka. Begitu ditangkap, tangan dan kaki mereka diikat dengan rantai besi. Mata mereka ditutup rapat agar mereka tak tau dibawa ke mana.

Tiba dipenjara, mereka langsung dilempar ke sel interogasi. Di sana, para ibu malang itu dipukuli, dianiaya, diancam bahkan dilarang untuk tidur dan makan dalam jangka waktu panjang, meskipun mereka sedang mengandung.

Israel tidak peduli dengan kondisi kandungan mereka. Akibatnya sebagian mengalami keguguran,  seperti yang terjadi pada Shafiq Thoha, yang mengandung dua bulan saat ditahan IDF tahun 1968.

Pasukan Israel menendang perutnya tanpa belas kasih. Lebih dari itu dia juga dianiya oleh narapidana Israel atas instruksi para sipir. Akibatnya Shafiq mengalami keguguran.

Penderitaan ibunda Palestina semakin bertambah setelah keluar dari ruang interogasi dan masuk ke dalam sel. Tanpa cahaya matahari dan sirkulasi udara, ruang tahanan menjadi kubangan penyakit tanpa penanganan medis memadai.

Tiba waktu persalinan, sipir Israel mengikat kaki mereka dengan rantai besi sebelum dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit, tangan dan kaki mereka diborgol di atas tempat tidur. Israel tidak mengizinkan suami atau seorang pun dari anggota keluarga untuk menemani. Borgol tidak akan dilepas sampai menjelang persalinan.

Selesai melahirkan anak-anak mereka akan dimasukkan ke dalam sel bersama ibunya. Bayi tak berdosa diperlakukan sebagai tahanan dan tinggal di balik jeruji besi. Tak sama seperti bayi normal yang mendapatkan perhatian dan perawatan lebih, mereka tak mendapatkan hak-haknya sebagai seorang balita, bahkan para sipir Israel menyita barang-barang yang dibutuhkan untuk perawatan bayi.

Berikut ini sekelumit kisah tahanan ibu hamil Palestina yang mendekam di balik  jeruji besi Israel.

Zakiah Syamuth

Dilahirkan pada tahun 1956. Adalah tahanan wanita pertama yang ditangkap dalam keadaan hamil dan menjalani persalinan di dalam penjara Israel. Pengadilan Israel menjatuhkan vonis seumur hidup. Tak peduli usia kehamilan mencapai 5 bulan, pihak Israel tetap melakukan berbagai macam penyiksaan. Zakiyah melahirkan didalam sel isolasi di Ramallah dibantu beberapa tahanan lain. Putrinya bernama Nadia hidup bersama sang ibu di dalam penjara selama 1 tahun sebelum akhirnya  dipisahkan.  Zakiyah dibebaskan pada tahun 1983 dalam perjanjian tukar tahanan lalu diekstradisi ke Aljazair dan meninggal pada tahun 2014.

Majidah Jasir Salaemeh

Dilahirkan di wilayah Bab Al-Silsilah, kota suci Al-Quds. Pada tahun 1978 Majidah ditangkap saat kembali dari Yordania dalam keadaan hamil enam bulan. Dia melahirkan putranya di dalam penjara lalu dibebaskan dalam perjanjian tukar tahanan pada tahun 1985.

Umaimah Musa Muhammad al-Jabour Agha

Dilahirkan pada tahun 1956 dan ditangkap pasukan pendudukan Israel (IDF) pada tahun 1993. Umaimah yang saat itu sedang mengandung, melahirkan putrinya saat menjalani hukuman penjara dalam kondisi tangan dan kaki terikat. Sang putri mendekam di balik jerji besi selama dua tahun sebelum akhirnya dibawa pulang ke rumah keluarga melalui Bulan Sabit Merah di akhir tahun 1995. Umaimah dibebaskan pada tahun 1997 setelah menjalani hukuman selama 6 tahun 11 bulan dan 29 hari.

Mirfat Mahmoud Yusuf Thoha

Ditangkap pada tahun 2002 saat berusia 21 tahun. Mirfat melahirkan putranya bernama Wail pada tahun 2003 dalam kondisi tangan dan kakik terikat di Shamir Medical Center, 5 km dari penjara kota Ramallah. Mirfat dibebaskan bersama sang putra setelah menjalani hukuman selama 3 tahun.

Manal Ibrahim Abdurrahman Ghanim

Dilahirkan pada tahun 1975 lalu ditangkap pada tahun 2003 dari kamp pengungsi Tulkarim. Ibu empat anak ini ditangkap pada tahun 2003 dan melahirkan putrinya bernama Nur didalam penjara. Keduanya lalu dipisahkan pada tahun 2006. Manal dibebaskan pada tahun 2007.

Aisyah Al-Kurd

Melahirkan putranya yang bernama Yasir di Rumah Militer Israel Sakit “Sarafand” dalam kondisi tubuh terikat, hari Jum’at, 7 Juni 1988, tepat saat azan Magrib berkumandang. Aisyah kemudian diberikan kebebasan bersayarat pada 19 Juni 1988. Pada tahun 2014 Yasir meninggal dunia dalam serangan roket saat agresi Israel di musim panas tahun 2014.

Sammar Ibrhaim Subaih

Dilahirkan pada 8 November 1983 di kamp pengungsi Jabaliya, Jalur Gaza. Dia ditangkap rumahnya di Tulkarim pada 2005 dalam keadaan hamil 5 bulan lalu melahirkan putranya melalui operasi cesar. Sammar melahirkan dalam kondisi tangan dan kaki terikat sampai memasuki ruang operasi dan dibebaskan pada tahun 2007 setelah menjalani hukuman selama 27 bulan.

Fatimah Yunus Hassan Razzaq

Dilahirkan pada tahun 1969 di Hay Syuja’iyah. Lalu ditangkap di Check Point Beit Hanoun, Erez pada 2007. Saat itu kandungannya berusia dua bulan dan melahirkan sang putra tahun 2008. Fatimah dan putranya, Yusuf dibebaskan pada tahun 2009.

(T.RS/S:Wafanews)

leave a reply