New York Times: Operasi Memburu Baghdadi Dibantu Oleh Sang Istri

Informasi mengejutkan terkait lokasi Baghdadi diperoleh oleh CIA setelah menangkap dan menginterogasi salah satu istrinya serta seorang tukang pos yang bekerja dengan Baghdadi musim panas lalu.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,28 Oct 2019,11:18 AM

Idlib,  SPNA - The New York Times melaporkan rincian baru terkait peran istri Abu Bakar al-Baghdadi dalam operasi militer “Kayla Mueller” yang menewaskan pemimpin ISIS tersebut di Idlib, di Suriah utara.

 

Surat kabar AS tersebut mengutip keterangan pejabat AS terkait bagaimana operasi serangan terhadap lokasi Baghdadi dilakukan.

Informasi mengejutkan terkait lokasi Baghdadi diperoleh oleh CIA setelah menangkap dan menginterogasi salah satu istrinya serta seorang tukang pos yang bekerja dengan Baghdadi musim panas lalu.

Setelah mendapatkan informasi ini, CIA bekerja sama dengan intelijen Irak dan Kurdi di Irak dan Suriah untuk menentukan lokasi Baghdadi secara akurat.

CIA juga menyebarkan mata-mata untuk memantau pergerakannya dimana hal ini membantu pasukan khusus AS melakukan operasi, seperti dilansir RtArabic, Senin (28/102/019).

Keputusan mengejutkan Presiden Donald Trump untuk menarik pasukan AS dari Suriah utara telah menghambat misi.

Rencana awal operasi ini dimulai musim panas lalu saat Komando dari Satgas Delta  menyusun rencana pelatihan misi rahasia, membunuh atau menangkap pemimpin ISIS.

“Operasi ini menghadapi hambatan besar karena lokasi Baghdadi terletak di wilayah yang dikuasai oleh al-Qaeda. Selain itu perbatasan udara berada di bawah kendali Suriah dan Rusia,” ujarnya.

Presiden AS Donald Trump Minggu, (27/10/2019) mengkonfirmasi bahwa pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi  terbunuh dalam operasi tersebut.

Menurut Trump, Baghdadi melakukan aksi bunuh diri bersama 3 anaknya dengan sabuk peledak saat mencoba melarikan diri dari militer AS melalui sebuah terowongan di bawah tempat persembunyiannya.

Sementara itu, Badan Pengamat Hak Asasi Manusia di Suriah mengatakan bahwa  sejumlah helikopter menyerang basis kelompok jihadis yang berafiliasi keada ISIS di Idlib, pada pukul 01.30 dini hari. 9 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Jika memang misi tersebut berhasil, maka ini akan menjadi operasi militer paling penting menargetkan pemimpin kelompok  jihadis sejak eksekusi pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden di  Pakistan.

Pasca serangan di Idlib, militer  Suriah dan Rusia dilaporkan siaga satu  di perbatasan Suriah-Turki, sementara Amerika mengirim bala bantuan ke kilang minyak di sebelah timur yang dikendalikan oleh pasukan Kurdi.

Abu Bakar al-Baghdadi bernama asli Awad al-Badri, lahir pada tahun 1971 dari keluarga miskin di kota Samarra di utara.

Dia menyukai sepakbola dan bermimpi menjadi pengacara, namun nilai ujian tidak memungkinkannya untuk masuk sekolah hukum.

Dia juga berambisi untuk bergabung dengan militer, namun terhalangi karena masalah penglihatan. Baghdadi  akhirnya mengikuti studi agama Islam di Baghdad sebelum menjadi seorang imam di ibukota di masa Saddam Hussein.

Dalam invasi AS ke Irak pada tahun 2003, Baghdadi membentuk kelompok jihad sebelum  ditangkap dan ditahan di Penjara Bucca.

Baghdadi lalu dibebaskan dari penjara dan bergabung dengan jihadis Sunni di bawah bendera Al-Qaeda. Dia bahkan menjadi komando selama bertahun-tahun, AFP melaporkan.

Baghdadi diketahui telah menjadi pemimpin Negara Islam Irak (ISI) sejak 2010. Kemudian pada 2013 Baghdadi mengatakan bahwa kelompoknya dikenal sebagai Negara Islam di Irak atau ISIS.

CNN melaporkan bahwa Baghdadi diyakini sebagai pemimpin kelompok ISIS yang paling dicari selama lima tahun terakhir.

(T.RS/S:Palsawa)

leave a reply
Posting terakhir