Israel kembali mengurangi pasokan listrik sebanyak 40%

BY Ihsan ZainuddinEdited Tue,13 Jun 2017,08:44 AM

 Israel kembali mengurangi pasokan listrik sebanyak 40%

Bethlehen -SPNA- Kabinet Keamanan Israel menyetujui pengurangan pasokan listrik ke Jalur Gaza sebanyak 40%. Sebelumnya, warga Palestina telah merasakan krisis listrik dan pemadam selama berjalam-jam setiap harinya.

Sementara itu, perusahaan listrik Gaza, Senin (12/06/2017), mengatakan bahwa pihaknya belum menerima perintah resmi mengenai pemadaman listrik yang akan segera dilakukan. Pihaknya meminta agar warga Palestina menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Kelompok hak asasi manusia mendesak Israel untuk mempertimbangkan kembali keputusan tersebut, yang diperkirakan akan berdampak langsung dan memicu berbagai krisis, khususnya dibidang kesehatan.

Kepturusan tersebut dikeluarkan setelah otoritas Israel mengumumkan rencana pengurangan pasokan listrik bulan lalu, berdasarkan permintaan Otoritas Palestina (PA).

Diserutakan bahwa Presiden Palestina telah menginformasikan kepada Israel bahwa Otoritas Palestina hanya akan membayar 60%  dari tagihan bulanan, yaitu sebesar 40 juta shekel (11.19 juta dolar). Hamas –penguasa de facto di Gaza – dan pemimpin Fatah terus saling menyalahkan satu sama lain sehingga memperpuruk krisis yang terjadi di Gaza.

Baik Israel maupun Otoritas Palestina telah menuduh Hamas mengumpulkan jutaan shekel dari pajak yang dibayarkan oleh warga Gaza setiap bulannya tanpa mengirimkannya kepada Otoritas Palestina, dan mengalihkan “penggunaan dana tersebut untuk penggalian terowongan dan keuntungan Hamas,” seperti diungkap oleh Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT).

Pekan lalu, Otoritas Energi dan Sumber Daya Alam Palestina menyalahkan Hamas karena menghalangi rencana Otoritas Palestina dan Israel untuk memecahkan krisis listrik. Menurut lembaga tersebut, Hamas tidak mengirimkan pembayaran listrik kepada Otoritas Palestina. Merekapun menolak pernyataan yang dikeluarkan oleh otoritas Gaza yang menyatakan bahwa mereka telah memenuhi semua ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Palestina guna mengakhiri krisis listrik.

Lembaga milik Otoritas Palestina itu bersikeras bahwa solusi atas krisis listrik yang terjadi di Gaza tidak bisa dicapai tanpa adanya rekonsiliasi politik. Sepuluh tahun sudah pertengkaran sengit antara Hamas dan Fatah terus berlangsung, yaitu sejak tahun 2006 dalam pemilihan umum yang dilaksanakan di Jalur Gaza.

Namun, berbagai kritik ditujukan kepada Otoritas Palestina yang telah mengunakan isu krisis listrik untuk menekan pemerintahan Hamas guna melepaskan kendali atas wilayah Palestina tersebut.

Sejak April, sekitar dua juta warga Palestina hanya menikmati pasokan listrik selama tiga atau empat jam perhari. The Jerusalem Post mengungkapkan bahwa pengurangan pasokan listrik akan kembali diberlakukan, sehingga warga Gaza hanya bisa menikmati pasokan listrik selama dua atau tiga jam saja dalam sehari.

Merespon berita tersebut, kepala hubungan masyarakan perusahaan listrik, Muhamad Thabet menyatakan, “Jalur Gaza akan menanggung konsekuensi dan krisis di berbagai sektor -khususnya kesehatan, pendidikan dan berbagai pelayanan- jika pasokan listrik dikurangi.”

Thabet menuntut agar PBB dan organisasi hak asasi manusia menekan Israel untuk menarik keputusan tersebut. Ia mengatakan bahwa jika dan ketika Israel melaksanakan tindakan tersebut, perusahaan listrik akan memberikan pernyataan guna mengkonfirmasi langkah itu.

Meskipun tidak ada kejelasan mengenai kapan keputusan tersebut mulai dijalankan, Thabet meminta warga Palestina di Gaza untuk menyiapkan diri menghadapi kemingkinan terburuk

Kementerian Kesehatan Gaza mengeluarkan pernyataan, Senin (12/06/2017), yang menekankan bahwa sektor kesehatan telah berjuang menyediakan bahan bakar guna mengoperasikan 87 generator yang memasok listrik ke berbagai rumah sakir selama jam pemadaman listrik

Kepala departemen radiolagi rumah sakit umum Gaza, Ibrahim Abbas juga mengatakan bahwa peralatan diagnosis radiologi yang telah disediakan selama sepuluh tahun terakhir – dengan biaya mencapai 10 juta dolar – akan mengalami kerusakan karena sangat peka terhadap pemadaman listrik.

 

SPNA Gaza City

Sumber: Ma’an News, Penerjemah: Ratna

leave a reply