Warga Yahudi Buka Kafetaria di Alun-Alun Masjid Ibrahimi

Sejumlah warga Yahudi meresmikan kafetaria khusus Yahudi di alun-alun Masjid Ibrahimi Kota Hebron pada Rabu (15/07). Tampak puluhan warga Yahudi mendatangi dan meramaikan kafetaria tersebut, mencoba menunjukkan eksistensi mereka kepada khalayak.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Thu,16 Jul 2020,10:24 AM

Hebron, SPNA – Sejumlah warga Yahudi meresmikan kafetaria khusus Yahudi di alun-alun Masjid Ibrahimi Kota Hebron pada Rabu (15/07). Tampak puluhan warga Yahudi mendatangi dan meramaikan kafetaria tersebut, mencoba menunjukkan eksistensi mereka kepada khalayak.

Sebelumnya Otoritas Pendudukan Israel telah mengeluarkan perintah penyitaan tanah seputaran Masjid Ibrahimi; demi proyek yahudisasi yang mencakup pembangunan lift, rumah perisitirahatan, serta jalur khusus untuk memudahkan warga Yahudi menyusup masuk ke masjid.

Perintah tersebut berasal dari Menteri Perang Israel Naftali Bennett awal bulan lalu, meliputi arahan untuk segera menyelesaikan proyek tersebut. Rencana tersebut telah disertifikasi oleh Otoritas Peradilan Israel, Kepala Pemerintahan Israel Benjamin Netanyahu, dan Menteri Luar Negeri Yisrael Katz.

Proyek pemukiman Yahudi yang selama ini dijalankan Israel memberikan wewenang besar bagi mereka untuk mengotak-atik segala fasilitas bersejerah di dekat Masjid Ibrahimi, termasuk menarik hak pembangunan dan perencanaan kota yang kemudian diserahkan kepada Pemerintahan Sipil Israel.

Otoritas Palestina menandatangani perjanjian dengan Israel pada tahun 1997, yang dikenal sebagai (Redeployment Protocol), di mana Palestina setuju untuk membagi Hebron Lama menjadi dua bagian, dan Israel memiliki wewenang atas keduanya, termasuk wilayah di mana Masjid Ibrahimi berada.

Israel kemudian menguasai 60% area masjid. Bagi warga Palestina yang ingin masuk harus melalui protokol keamanan yang sangat ketat, dan bahkan azan sekalipun tidak diizinkan di beberapa waktu dengan alasan mengganggu ketenteraman warga Yahudi di kota tua tersebut.

Otoritas Pendudukan Israel juga memaksakan penutupan komprehensif Masjid Ibrahimi dan sekitarnya pada hari-hari libur Yahudi. Demikian juga mereka membebaskan para warga Yahudi untuk beribadah dan berdoa sesuka mereka di sana, berbanding terbalik dengan yang mereka lakukan kepada para peziarah Muslim dan warga Palestina; di mana segala aktivitas bahkan ziarah di Masjid Ibrahimi pun dibatasi dengan bebagai protokol yang super ketat.

Otoritas Pendudukan Israel merebut Masjid Ibrahimi dari tangan Palestina setelah warga Yahudi Baruch Goldstein melakukan pembantai terhadap jamaah di masjid tersebut pada dini hari 25 Februari 1994, sebuah pembantaian yang mengakibatkan syahidnya 29 warga Palestina dan menutup jantung Hebron Kota Tua hingga saat ini.

(T.NA/S: Palinfo)

leave a reply