Mantan Menlu Mesir Harap Isu Palestina dan Timur Tengah Bisa Berbeda di Tangan Biden

“Amerika adalah negara besar yang tidak dapat sepenuhnya mengabaikan Kawasan (Timur Tengah) dan akan berurusan dengan kawasan baik dalam hal postif atau negatif, tetapi tidak dapat mengabaikan," kata Fahmi.

BY Mohamed AlhirtaniEdited Mon,09 Nov 2020,02:59 AM

Kairo, SPNA - Mantan Menteri Luar Negeri Mesir, Nabil Fahmi, Minggu (08/11/2020) berharap isu Palestina, Iran, demokrasi dan hak asasi manusia di Timur Tengah akan berubah dan berbeda dengan hadirnya Presiden Amerika Serikat yang baru, Joe Biden.

Fahmi mengatakan bahwa akan ada perbedaan dalam menangani isu nuklir Iran oleh Biden. Ia menyebut bahwa Presiden Donald Trump telah melanjutkan kebijakan tekanan tanpa bentrok, sementara itu menurut Fahmi, Biden akan berusaha untuk melakukan pendekatan yang lebih positif terhadap Iran.

“Tapi kami tidak melihat perubahan haluan yang cepat, sementara itu pihak Iran juga telah curiga terhadap kredibilitas sistem kebijakan Amerika,” ungkap Fahmi.

Fahmi menyebutkan bahwa Biden tidak akan mudah untuk mengubah situasi dan tidak akan melakukan bentrokan langsung dengan Iran, kecuali jika warga Amerika menghadapi risiko tertentu.

Mengenai masalah Palestina, Fahmi menilai bahwa perubahan utama dalam kebijakan Biden terhadap masalah tersebut adalah dia akan berusaha untuk melibatkan pihak Palestina dalam penyelesaian, dan tidak mengabaikannya seperti yang telah dilakukan Trump.

“Salah jika kita membayangkan bahwa Biden akan mengadopsi masalah (Palestina) tersebut dengan mengorbankan keseimbangan politiknya, atau dia akan mencoba membalikkan langkah yang diambil oleh Trump untuk kepentingan Israel,” ujar Fahmi.

Berkenaan dengan keputusan Biden untuk menghentikan bantuan untuk Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Fahmi berpendapat bahwa sangat mungkin Biden akan merubah sikapnya, hal ini disebabkan ada perbedaan antara kesepakatan kemanusiaan dan faktor politik.

“Amerika Serikat telah bertahun-tahun menjadi pendukung keuangan terbesar UNRWA, tanpa mengaitkannya ke dalam dukungan politik. Ada tanggung jawab di pihak Arab dan Palestina, karena ini adalah kesempatan untuk mengubah jalan tanpa menempatkan Biden dalam posisi yang tidak akan dapat dia lakukan. Biden tidak akan lebih Arab daripada orang Arab,” ungkap Fahmi.

Sedangkan hal yang berkaitan dengan solusi dua negara Palestina dan Israel, menurut Fahmi adalah masalah bagi Israel yang memang penghalang utama solusi tersebut. Ke depan, Fahmi berharap Joe Biden bisa mengangkat masalah demokrasi dan kebebasan di Timur Tengah.

“Amerika adalah negara besar yang tidak dapat sepenuhnya mengabaikan Kawasan (Timur Tengah) dan akan berurusan dengan kawasan baik dalam hal postitif atau negatif, tetapi tidak dapat mengabaikan," kata Fahmi.

(T.NA/S: RT Arabic)

leave a reply
Posting terakhir